Senin, 08 Desember 2014

Kiriman Anggota


Tak Terduga
Oleh   : Aisydhah Rahmah
           
Pagi-pagi buta, aku sudah terbangun dari mimpi indahku. bergegas ke kamar mandi dan langsung membasahi tubuhku dengan air yang sangat dingin. Dengan malas aku berjalan ke kamarku dan segera bersiap untuk berangkat sekolah.
          Oh iya, namaku Evi. Aku mungkin uda di takdiri terlahir sebagai seorang jomblo abadi. Bagaimana tidak, setiap kali aku jatuh cinta, selalu dan selalu cintaku itu bertepuk sebelah tangaan. nasiiib…nasiib
          Dengan langkah gontai aku berjalan menyusuri koridor sekolahku. Aku berjalan menundukkan kepala dan tanpa aku sadari aku menabrak seseorang. “maaf, aku nggak sengaja” kataku sembari menjulurkan tangan dan menundukkan kepalaku. Dan begitu mengejutkan ternyata aku menabrak doni. aku pun hanya terbelalak tak percaya. “maaf don, aku nggak tau kalau ada kamu” kataku sambil menundukkan kepala. “iya, nggak papa kok, lain kali kalau jalan hati-hati ya” kata doni sambil berlalu meninggalkanku yang seakan tak percaya dengan kejadian yang baru saja menimpaku.  Aku tetep pada posisi terpatung sambil menganga, berharap kejadian tadi bisa terulang lagi. “aiiisshh, aku bisa megang tangan doniiiii” teriakku dengan kencang. dan baru aku sadari, berpasang-pasang mata tengah memperhatikanku . aku segera memasang kuda-kuda dan langsung berlari menuju kelas.
“ngapain lo jam segini udah lari-larian?” kata Vian mengagetkanku. “aku seneng banget hari inii” kataku sambil cengir-cengir mengingat kejadian tadi. “gara-gara ketemu aku ? biasa aja kalii” aku mengangkat sebelah alisku pertanda aku nggak setuju dengan omongan vian.  “talk to my haaand” kataku seraya meninggalkan sahabat gilaku di depan pintu kelas. “udalah ngaku aja. pake acara malu segala.” teriak vian. aku tidak menjawab perkataannya. karena sudah pasti pembicaraanku nggak akan pernah ada habisnya kalo aku ngomong sama dia.
jam demi jam aku lalui dengan senang hati. berjam-jam aku gunakan untuk memikirkan doni. cowok terkeren di sekolahku. apa mungkin ya dia bisa jadi milik aku? ah itu Cuma mimpi yang terlalu tinggi. tanpa terasa jam sekolahku pun berbunyi. aku segera berkemas dan langsung tancap gas. “Cebong, aku pulang dulu yaa” kataku seraya melambaikan tangan dan memasang senyum yang sangat lebar. cebong.  itu panggilan kesayanganku buat vian. abisnya kalau ada dia aku berharap dia segera kebawa arus yang deres dan nggak bisa balik lagi. “eh… vi, kamu nggak mau bareng aku?” Kata vian seraya berlari mengejarku. “waduh, gimana ya, abisnya kamu kalo nyetir tuh lemoot banget. keburu sore baru sampek rumah.” kataku sambil memanyun-manyunkan mulutku. “ya barangkali kamu pengen lama-lama sama aku, tapi kamu malu gitu ngomongnya” kata vian sambil menyenggol pundakku. ketika aku ingin mengguyur vian dengan omelanku, seketika itu juga aku melihat doni sedang tertawa sangat bahagia dengan seseorang yang sedang asik bergelayutan di pundaknya. Tubuhku lemas. vian yang memahami keadaanku, langsung menarikku menjauh dari lokasi kejadian. aku pun tanpa banyak kata mengikuti tarikan tangan vian.
“aku anter kamu pulang ya vi” kata vian sambil mengusap air mataku. “aku pun hanya menoleh kea rah vian dan menganggukkan kepalaku. sepanjang perjalanan, aku bersandar di bahunya sambil melingkarkan tanganku di pinggang vian. Dan aku pun baru sadar kalau ternyata sedari tadi vian melambatkan laju sepedanya dan mengenggam erat tanganku yang bersarang di pinggangnya. Entah mengapa, aku sangat nyaman.
di pundaknya, aku bisa merasakan Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang nggak pernah ada waktu aku bersama dengan vian. Vian yang selalu cengengesan, vian yang selalu terlihat kasar, kini seakan berubah menjadi sosok yang sangat berkebalikan. “vii.. mau sampai kapan duduk di sepedaku terus? kamu nggak mau istirahat?” kata-kata vian membuyarkan lamunanku. segera aku melepaskan pelukanku dan segera berlari meninggalkan vian.
Di dalam kamar, aku terus berpikir entah mengapa aku merasa aneh dengan vian.  Vian yang sealu aku kira sahabat yang sangat menjengkelkan, kini berubah menjadi sosok yang sangat sangat sangat nyaman. “apa aku suka sama vian ya? tapi kan nggak mungkin aku suka sama sahabatku sendiri. lagian vian kan nyebelin banget.” kataku dalam hati. aku pun segera membaringkan tubuhku di kasur dan menutup mataku. Semakin erat aku menutup mata, semakin jelas bayang-bayang vian terngiang. “yaampuuuuun. aku kan lagi sakit hati banget sama doni. tapi kenapa sih yang di pikiranku itu Cuma ada kecebong itu?” aku berteriak keras.
Mulai dari itu, aku semakin yakin kalau ternyata aku menaruh hati pada sahabatku sendiri. Sahabat yang selalu membuatku jengkel, sahabat yang selalu membuatku nyaman. Ketika berangkat sekolah aku memutuskan untuk berangkat bareng sama vian. selama di perjalanan menuju sekolah, aku hanya bisa diam terpaku. untuk memanggil namanya dengan sebutan kecebong pun aku tak sanggup. “gilaaaa! nih jantung deg-degan bangeeeet” teriakku dalam hati. “vii…” panggil vian. “ iya?” sahutku. “aku mau ngomong jujur ke kamu, tapi kamu jangan marah ya vi, janji dulu ke aku” kata vian sambil memperlambat laju sepeda motornya. “iya.. aku nggak bakal marah kok. aku janji.” seketika itu juga vian menghentikan sepeda motornya di pinggir jalan. “aku sayang banget sama kamu vi. aku sayang kamu lebih dari seorang sahabat. aku cinta sama kamu vi. aku nggak kuat kalo harus mendem ini lama-lama vi. kamu mau kan vi jadi pacar aku?” aku pun tak percaya dengan semua ynag di omongkan vian. jantungku seakan berhenti berdetak. aku bingung, aku malu. “iya. aku mau kok jadi pacar kamu” sahutku sambil menahan air mataku. air mata kebahagiaan.
“serius viii??” kata vian sambil mendongakkan daguku. dan aku hanya menganggukkan kepalaku. seketika itu juga, vian memelukku dengan erat. aku pun langsung membalas pelukannya. Ternyata, orang yang aku cari selama ini berada dekat denganku. “mbolos yuk vii..” ajak vian sambil cengengesan. “gila kamu. ada ulangan bu juli nih” kataku sambil memukul bahu vian. “aku Cuma pengen njadiin hari ini sebagai hari yang paling bahagia buat aku vii. kamu mau ya?” kata vian sambil memegang erat tanganku. “tapi ntar kalau ulangan, kamu harus contekin aku! nggak boleh pelit!!” sahutku sambil mengangkat sebelah alisku. ‘iya pacarku sayangg” kata vian tersenyum penuh kebahagiaan. setelah itu, kami berdua langsung tancap gas. Ini adalah hari paling special untukku. hari special dengan seseorang yang sangat special.
                                    





TAMAT

Kiriman Kawan


PALSU
Oleh    : Aisydhah Rahmah

Senja mulai mengetuk…
Ku teringat kebersamaan itu…
Kasih sayang yang sempat rujuk…
Cinta kasih yang tertata rapi…
Kini tergerus habis tak berbentuk…
Adakah cara agar kita bersatu…
Ku tak sanggup, hatiku kelu…
Ternyata semua kebahagiaan hanya semu…
Ku tertipu buaian manismu


Matematika
Oleh    : Aisydhah Rahmah

Bentangan angka-angka
Menatap manja disetiap hurufnya
Berharap disentuh dan diraba
Untuk memecahkan misteri didalamnya
                        Misteri yang tersembunyi
                        Mengintip-intip ingin dicari
                        Hanya ketakutan yang menanti
                        Mendapat angka lingkaran mati






Rok Abu-abu
Oleh    : Aisydhah Rahmah

Malam Kelabu
Hitam putih hidupku
Tak ada lagi harapanku
Bergantung pada rok abu-abu
Bukan milik anak sekolah
Ini milik peminta-minta
Apa daya tiada asa
Bergantung pada empunya harta


Putih Abu-abu
Oleh    : Aisydhah Rahmah

Putih abu-abu
Saksi bisu perjuangan pilu
Terkenang kisah saat kita bersama
Tawa pilu suka duka
asalkan kita bersama
Badaipun seolah tak berasa
oh persahabatan…
saling memiliki saling mengasihi
akankah kisah ini abadi
walau termakan jaman tergerus waktu

Kiriman Anggota


Sampah Masa Lalu
Oleh : Aisydhah Rahmah

pagi ini sangat indah. meskipun hatiku masih merasa ada yang hilang di pagi ini. aku mengintip dari jendela kamarku dan menatap ke arah alam luas. berbulan-bulan aku menyembunyikan rasa sakitku di balik senyuman, berbulan-bulan aku menutup hati untuk pria manapun, berbulan-bulan aku merasa aku begitu bodoh sebagai seorang wanita.  haruskah aku mengingat lelaki yang pergi meninggalkanku begitu saja? haruskah aku berdiam diri dan terus menerus menoleh ke masa laluku?. TIDAK!! aku harus bangkit dari semua ini.
namaku arini, aku sekolah di salah satu perguruan tinggi ternama di kota bandung. dulu kehidupanku sangat indah sebelum seorang pria datang dan mengorak-arik kehidupanku. namanya Danu. Danu cinta pertama di hidupku. Dia datang ke kehidupanku lalu pergi begitu saja meninggalkan aku dengan luka. tapi itu masa lalu. aku berjanji mulai sekarang aku akan mengubur semuanya. aku akan memulai hidupku yang baru dan tentunya dengan semangat yang baru.
“niiii..ariniiii” suara mamaku langsung membuyarkan aku dari lamunan masa laluku. “iya ma,, ada apa sih?” kataku seraya membuka pintu kamarku. “loh, kamu nggak kuliah? ini udah jam 8 loh, jangan lupa sarapan dulu. mama berangkat kerja dulu ya”. “iya mamaa. ati-ati ya”. mamaku merupakan single parent yang sangat hebat. dia membesarkan aku dan kakak laki-lakiku seorang diri. dia membesarkan kami dengan penuh perjuangan, dia nggak peduli dengan omongan orang-orang mengenai kehidupannya. bagi mama, kehidupan tidak akan berhenti di satu titik. melainkan kehidupan akan menaruh kita di titik-titik yang lainnya tergantung bagaimana kita menyikapi semua itu.
selesai sarapan dan berkemas-kemas, aku langsung menuju ke kampus dan langsung di sambut dengan ke dua orang sahabatku yang sangat setia. dewi dan dea. mereka bener-bener sahabatku yang top siiip deh pokoknya. beruntung banget aku dipertemukan sama mereka. “lama amat sih datengnya, udah setangah Sembilan lebih nih” kata dewi sambil langsung menarikku menuju ke kelas. “aduh sakit niih jangan di tarik-tarik doong.” kataku seraya berusaha melepaskan cengkraman tangan dewi. “maaf bu, kami telat.” kata kami bertiga kompak. “dari mana saja kalian? kalian bertiga udah telat lebih dari 20 menit. dan saya tidak izinkan kalian ikut mata kuliah saya. sekarang kalian bertiga keluar”.
“tuh kan. kita gaboleh masuk.” kata dea sambil menggandeng tanganku erat-erat. “iih apaan sih dee,, udalah lupain aja.” kataku sambil melepaskan pelukan tangan dea. “eh ar, kayaknya ada yang beda deh dari kamu, tapi apa ya?” kata si dewi sambil memutar-mutar tubuhku. “semangat ku dong yang baru”. “ohhh jadi ceritanya udah bisa move on niih”. sahut dea sambil cengir-cengir. “iyaa dong. kan kata kalian ngapain masi mikirin cowok yang dengan bodohnya ngelepasin aku gitu aja. eh bolos kuliah yuk. pengen nonton nih aku. mumpung ada film baru”. “ahh.. aku enggak ikutan deh. aku ada mata kuliah habis ini. kalian berdua pergi aja,” . “loh de, kenapa sih? nggak ada kamu itu rasanya ada yang kurang”. kata dewi langsung merayu dea agar bisa ikut nonton bersama kita. “yaampun sory banget ya.. aku beneran gabisa”. “yaudalah dew, dea juga lagi sibuk kan. jangan maksa dia. Yaudah de, kita pergi dulu yaa.. byee” kataku kemudian.
ketika aku sama dewi lagi asik-asiknya muter-muter mall sambil nungguin jadwal film kita, aku pun secara nggak sengaja ngelihat danu sedang menggandeng cewek barunya dan mengelus-ngelus kepala perempuan yang ada di sampingnya dengan penuh perasaan. sama seperti yang dia lakuin untukku dulu. semangat yang aku bangun dengan susah payah kini dengan cepatnya langsung meleleh dalam waktu sekejap aja. dan tanpa terasa, aku mulai menitikkan air mata. dewi yang mengerti perasaanku langsung menarik aku meninggalkan tempat itu. “udahudah ar.. katanya tadi udah punya semangat baru? jangan nangis gini dong. kamu harus kuat ar, kamu harus buktiin ke dia kalau kamu juga bisa meskipun tanpa dia. udah dong ar, entar aku juga ikutan nangis loh.”. “sakit dewiii.. sakit banget rasanya. kenapa dia gampang banget nyari penggantiku? sedangkan aku? buat move on dari dia aja rasanya susah banget”. “iya ar, aku ngerti. sekarang kita pulang aja ya, nontonnya besok-besok aja.”. “maav dew, aku ngerusak semuanya” kataku dengan penuh air mata. “udalah ar, aku gapapa kok. aku malah khawatir sama kamu. ayo pulang, sini aku bantu” kata dewi seraya menggandeng tanganku karena memang untuk berdiri saja pun rasanya aku nggak sanggup.
sesampainya aku di rumah, aku langsung menangis sejadi-jadinya. “arrgghh kamu itu cowok sialan. kenapa sih kamu begitu mesranya sama cewek baru kamu di depanku? kamu nggak tau aku dengan susah payah buat bangkit dari semua ini. tapi kenapa kamu malah ngehancurin semuanya hanya dalam waktu sekejap aja. Tuhaaaaan” aku berteriak sejadi-jadinya. aku gak peduli entah ada yang mendengar. “aku pengen ngelupain kamu danu!! please jangan muncul lagi di kehidupanku” aku masih berteriak sambil terus menjatuhkan air mataku yang seakan gak mungkin habis stok persediaannya.
aku menangis semalaman dan paginya ketika aku bangun, mataku benar-benar sembab. aku pergi ke kamar mandi dan mencuci mukaku. aku langsung menatap wajahku dalam-dalam. “apa pantes aku terus netesin air mata buat cowok kayak dia? enggak arini. cukup ini air mata yang terakhir buat dia.” aku berkata pada diriku sendiri di depan cermin dan aku mulai tersenyum. aku berjanji ini yang terakhir aku nangis buat dia.
ketika aku keluar kamar, aku melihat cowok yang nggak asing buat aku sedang duduk di ruang tamu sambil membawa boneka teddy ungu besar kesukaanku. “danu?? nggak mungkin ah…” kataku sambil mengusap mataku berkali-kali dan bayangan itu nggak hilang. ini nyata. “damn. ngapain sih cowok itu kesini?” kataku dalam hati. aku pun langsung menghampiri danu dengan segudang pertanyaan. “Ngapain kamu kesini? mau nyakitin aku lagi atau mau minta maaf? eh tapi pintu maafku udah ketutup rapet tuh buat kamu. jadi sia-sia aja kamu dateng. mending sekarang kamu keluar.” kataku seraya berlalu dari hadapannya. dan tanpa aku sangka, danu menarik tanganku dan membiarkan aku terjatuh dalam pelukannya. semua memori yang hilang dalam sekejap langsung membayang di pikiranku. aku merasa nyaman. sangat nyaman. “aku tau, aku salah, aku bodoh ninggalin kamu gitu aja. kasih aku kesempatan ar, sekali aja. aku bakal buktiin ke kamu kalau aku nyesel”. ucapan danu membuat aku tersadar kalau aku berada di pelukan orang yang salah. segera aku melepaskan pelukannya dan langsung menatap mata sayu nya dalam-dalam. “nggak salah denger nih aku? kamu nyesel ninggalin aku? padahal baru kemaren aku lihat kamu mesra-mesraan sama cewek baru kamu, sekarang kamu ngomong nyesel ninggalin aku? cowok macem apa kamu? kamu pikir cewek itu boneka? seenaknya aja kamu mainin terus kalo bosen kamu tinggalin gitu aja? enggak danu. cewek itu emas. sekarang, kamu pulang aja. percuma kamu dateng kesini. aku nggak bakal ngerubah pemikiranku ke kamu.” kataku sambil menjauhi danu yang terus berdiri sambil memandangi aku seakan nggak percaya kalau ini bener-bener terjadi. “Oh iya dan, satu yang harus kamu inget. cowok sejati nggak pernah suka mainin boneka looooh.” Danu semakin tak percaya kalau aku berani ngomong seperti itu ke dia.
setelah kejadian itu entah kenapa aku bisa ngehapus semua memoriku tentang dia. rasanya dalam sekejap aja semua rasaku ke dia udah lenyap. ajaib tapi ini emang nyata.