Sampah
Masa Lalu
Oleh : Aisydhah Rahmah
pagi
ini sangat indah. meskipun hatiku masih merasa ada yang hilang di pagi ini. aku
mengintip dari jendela kamarku dan menatap ke arah alam luas. berbulan-bulan
aku menyembunyikan rasa sakitku di balik senyuman, berbulan-bulan aku menutup
hati untuk pria manapun, berbulan-bulan aku merasa aku begitu bodoh sebagai
seorang wanita. haruskah aku mengingat
lelaki yang pergi meninggalkanku begitu saja? haruskah aku berdiam diri dan
terus menerus menoleh ke masa laluku?. TIDAK!! aku harus bangkit dari semua ini.
namaku
arini, aku sekolah di salah satu perguruan tinggi ternama di kota bandung. dulu
kehidupanku sangat indah sebelum seorang pria datang dan mengorak-arik kehidupanku.
namanya Danu. Danu cinta pertama di hidupku. Dia datang ke kehidupanku lalu
pergi begitu saja meninggalkan aku dengan luka. tapi itu masa lalu. aku
berjanji mulai sekarang aku akan mengubur semuanya. aku akan memulai hidupku
yang baru dan tentunya dengan semangat yang baru.
“niiii..ariniiii”
suara mamaku langsung membuyarkan aku dari lamunan masa laluku. “iya ma,, ada
apa sih?” kataku seraya membuka pintu kamarku. “loh, kamu nggak kuliah? ini
udah jam 8 loh, jangan lupa sarapan dulu. mama berangkat kerja dulu ya”. “iya
mamaa. ati-ati ya”. mamaku merupakan single parent yang sangat hebat. dia
membesarkan aku dan kakak laki-lakiku seorang diri. dia membesarkan kami dengan
penuh perjuangan, dia nggak peduli dengan omongan orang-orang mengenai kehidupannya.
bagi mama, kehidupan tidak akan berhenti di satu titik. melainkan kehidupan
akan menaruh kita di titik-titik yang lainnya tergantung bagaimana kita
menyikapi semua itu.
selesai
sarapan dan berkemas-kemas, aku langsung menuju ke kampus dan langsung di
sambut dengan ke dua orang sahabatku yang sangat setia. dewi dan dea. mereka
bener-bener sahabatku yang top siiip deh pokoknya. beruntung banget aku
dipertemukan sama mereka. “lama amat sih datengnya, udah setangah Sembilan
lebih nih” kata dewi sambil langsung menarikku menuju ke kelas. “aduh sakit
niih jangan di tarik-tarik doong.” kataku seraya berusaha melepaskan cengkraman
tangan dewi. “maaf bu, kami telat.” kata kami bertiga kompak. “dari mana saja
kalian? kalian bertiga udah telat lebih dari 20 menit. dan saya tidak izinkan
kalian ikut mata kuliah saya. sekarang kalian bertiga keluar”.
“tuh
kan. kita gaboleh masuk.” kata dea sambil menggandeng tanganku erat-erat. “iih
apaan sih dee,, udalah lupain aja.” kataku sambil melepaskan pelukan tangan
dea. “eh ar, kayaknya ada yang beda deh dari kamu, tapi apa ya?” kata si dewi
sambil memutar-mutar tubuhku. “semangat ku dong yang baru”. “ohhh jadi ceritanya
udah bisa move on niih”. sahut dea sambil cengir-cengir. “iyaa dong. kan kata
kalian ngapain masi mikirin cowok yang dengan bodohnya ngelepasin aku gitu aja.
eh bolos kuliah yuk. pengen nonton nih aku. mumpung ada film baru”. “ahh.. aku
enggak ikutan deh. aku ada mata kuliah habis ini. kalian berdua pergi aja,” .
“loh de, kenapa sih? nggak ada kamu itu rasanya ada yang kurang”. kata dewi
langsung merayu dea agar bisa ikut nonton bersama kita. “yaampun sory banget
ya.. aku beneran gabisa”. “yaudalah dew, dea juga lagi sibuk kan. jangan maksa
dia. Yaudah de, kita pergi dulu yaa.. byee” kataku kemudian.
ketika
aku sama dewi lagi asik-asiknya muter-muter mall sambil nungguin jadwal film
kita, aku pun secara nggak sengaja ngelihat danu sedang menggandeng cewek
barunya dan mengelus-ngelus kepala perempuan yang ada di sampingnya dengan
penuh perasaan. sama seperti yang dia lakuin untukku dulu. semangat yang aku
bangun dengan susah payah kini dengan cepatnya langsung meleleh dalam waktu
sekejap aja. dan tanpa terasa, aku mulai menitikkan air mata. dewi yang
mengerti perasaanku langsung menarik aku meninggalkan tempat itu. “udahudah
ar.. katanya tadi udah punya semangat baru? jangan nangis gini dong. kamu harus
kuat ar, kamu harus buktiin ke dia kalau kamu juga bisa meskipun tanpa dia.
udah dong ar, entar aku juga ikutan nangis loh.”. “sakit dewiii.. sakit banget
rasanya. kenapa dia gampang banget nyari penggantiku? sedangkan aku? buat move
on dari dia aja rasanya susah banget”. “iya ar, aku ngerti. sekarang kita
pulang aja ya, nontonnya besok-besok aja.”. “maav dew, aku ngerusak semuanya”
kataku dengan penuh air mata. “udalah ar, aku gapapa kok. aku malah khawatir
sama kamu. ayo pulang, sini aku bantu” kata dewi seraya menggandeng tanganku
karena memang untuk berdiri saja pun rasanya aku nggak sanggup.
sesampainya
aku di rumah, aku langsung menangis sejadi-jadinya. “arrgghh kamu itu cowok
sialan. kenapa sih kamu begitu mesranya sama cewek baru kamu di depanku? kamu
nggak tau aku dengan susah payah buat bangkit dari semua ini. tapi kenapa kamu
malah ngehancurin semuanya hanya dalam waktu sekejap aja. Tuhaaaaan” aku
berteriak sejadi-jadinya. aku gak peduli entah ada yang mendengar. “aku pengen
ngelupain kamu danu!! please jangan muncul lagi di kehidupanku” aku masih
berteriak sambil terus menjatuhkan air mataku yang seakan gak mungkin habis
stok persediaannya.
aku
menangis semalaman dan paginya ketika aku bangun, mataku benar-benar sembab.
aku pergi ke kamar mandi dan mencuci mukaku. aku langsung menatap wajahku
dalam-dalam. “apa pantes aku terus netesin air mata buat cowok kayak dia?
enggak arini. cukup ini air mata yang terakhir buat dia.” aku berkata pada
diriku sendiri di depan cermin dan aku mulai tersenyum. aku berjanji ini yang
terakhir aku nangis buat dia.
ketika
aku keluar kamar, aku melihat cowok yang nggak asing buat aku sedang duduk di
ruang tamu sambil membawa boneka teddy ungu besar kesukaanku. “danu?? nggak
mungkin ah…” kataku sambil mengusap mataku berkali-kali dan bayangan itu nggak
hilang. ini nyata. “damn. ngapain sih cowok itu kesini?” kataku dalam hati. aku
pun langsung menghampiri danu dengan segudang pertanyaan. “Ngapain kamu kesini?
mau nyakitin aku lagi atau mau minta maaf? eh tapi pintu maafku udah ketutup
rapet tuh buat kamu. jadi sia-sia aja kamu dateng. mending sekarang kamu
keluar.” kataku seraya berlalu dari hadapannya. dan tanpa aku sangka, danu
menarik tanganku dan membiarkan aku terjatuh dalam pelukannya. semua memori
yang hilang dalam sekejap langsung membayang di pikiranku. aku merasa nyaman.
sangat nyaman. “aku tau, aku salah, aku bodoh ninggalin kamu gitu aja. kasih aku
kesempatan ar, sekali aja. aku bakal buktiin ke kamu kalau aku nyesel”. ucapan
danu membuat aku tersadar kalau aku berada di pelukan orang yang salah. segera
aku melepaskan pelukannya dan langsung menatap mata sayu nya dalam-dalam. “nggak
salah denger nih aku? kamu nyesel ninggalin aku? padahal baru kemaren aku lihat
kamu mesra-mesraan sama cewek baru kamu, sekarang kamu ngomong nyesel ninggalin
aku? cowok macem apa kamu? kamu pikir cewek itu boneka? seenaknya aja kamu
mainin terus kalo bosen kamu tinggalin gitu aja? enggak danu. cewek itu emas.
sekarang, kamu pulang aja. percuma kamu dateng kesini. aku nggak bakal ngerubah
pemikiranku ke kamu.” kataku sambil menjauhi danu yang terus berdiri sambil
memandangi aku seakan nggak percaya kalau ini bener-bener terjadi. “Oh iya dan,
satu yang harus kamu inget. cowok sejati nggak pernah suka mainin boneka looooh.”
Danu semakin tak percaya kalau aku berani ngomong seperti itu ke dia.
setelah
kejadian itu entah kenapa aku bisa ngehapus semua memoriku tentang dia. rasanya
dalam sekejap aja semua rasaku ke dia udah lenyap. ajaib tapi ini emang nyata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar