Chapter
I
“Dia....”
Oleh: Nisya S P
Sah sudah menjadi seorang senior saat ini. Rupanya
sudah 1 tahun ini duduk dibangku SMA bagi Ifha Nurisya alias Icha. Siswi dengan
penampilan rapi, rambut hitam yang lurus yang selalu terurai dengan bando biru
khasnya, tanpa memakai bedakpun wajahnya sudah sangat cantik. Dan tak pernah
lupa kemanapun dia pergi selalu ada buku ditangannya. Sudah terbayangkan
seperti apa kepribadiannya.
Pagi ini dia akan menjadi panitia
pembukaan MOS bagi siswa-siswi baru disekolahnya, dia sudah bersiap dengan
tasnya, dia segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya, ada
kakak laki-lakinya, ibu dan ayahnya. Roti dengan selai strowbery menjadi
favoritnya saat sarapan sebelum berangkat sekolah dengan segelas susu putih.
“Ciye
yang udah mau jadi senior” celetuk kakaknya.
“Bukannya
mau, tapi sudah jadi senior kalee kak...” jawabnya dengan memasang wajah
sedikit manyun.
“Iya
iya... udah cepetan makannya, ntar kita telat lagi” ajak Kak Rezza pada Icha
untuk segera berangkat.
Icha mengiyakannya dan segera
berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk berangkat kesekolah dengan kak
Rezza. Motor kak Rezza yang mengkilap karena baru saja selesai dicuci semalam
sudah siap didepan untuk mengantar mereka berangkat sekolah. Sekolah Icha
memang tidak begitu jauh, hanya sekitar 3 Km dari rumahnya.
Tibalah Icha disekolahnya SMAN 6. Icha
pun berpamitan dengan kakaknya untuk masuk sekolahnya. sementara kak Rezza
berangkat menuju kampusnya. Icha menuju kelasnya. Dikelas sudah ada beberapa
temannya, ada Iis, Lesty, Lyly, Putri dan Ridwan. Icha pun segera menempati
tempat duduk didekat mereka.
“Aku titip tas ya, panitia harus
kumpul nih” pinta Icha pada teman-temannya yang lain untuk menjaga tasnya.
“
Lho, ini udah disuruh kumpul ya?” tanya Ridwan.
“
Kamu ini gimana sihc, ya udah ayo sekarang kumpul” ajak Icha pada Ridwan.
Dan
mereka pun segera menuju ruang OSIS sekolah untuk berkumpul dengan panitia yang
lain. Rupanya sudah banyak anggota lain yang sudah berkumpul. Tak lama kemudian
Ketua Osis pun datang dan memberikan pengarahan mengenai kegiatan MOS yang akan
diselenggarakan 3 hari kedepan. Semua panitia serius mendengarkan pengarahan
dari Ketua. Setelah semua selesai mereka pun segera menuju kelapangan dimana
para siswa-siswi baru berkumpul untuk acara pembukaan MOS. Tak lupa kepala
sekolah, Ibu Yayuk sudah bersiap ditempatnya. Barisan upacara pun sudah
dirapikan. Upacara pembukaan pun dimulai.
Upacara
berjalan lancar, setelah Upacara usai, seluruh panitia mengambil alih pimpinan
para siswa-siswi baru. Dan mereka pun dibagi per kelasnya masing-masing. Icha
mendapat bagian untuk membimbing kelas 1-3. Dan semua siswa-siswi kelas 1-3 pun
dibawa menuju kelas mereka masing-masing bersama Icha dan temannya Dimas.
***
“Wah capek banget dehc... baru aja
dimulai... ampun capeknya” celetuk Icha saat memasuki kelasnya untuk istirahat.
“Iya
ya Cha... hadehhh.. kekantin yuk” ajak Ridwan. Namun tiba-tiba saja...
“
Hallo...”
“Allah...
nggagetin aja sihc...” Teriak Ridwan pada orang disamping bangkunya yang baru
saja menyapanya dengan tiba-tiba.
“Siapa
dia? Aku baru liat ada anak baru dikelas kita, perasaan tadi pagi gak ada
dehc?” ungkap Icha penasaran.
“Aku
murid pindahan, tadi pagi aku datang terlambat, wajar kalian gak tau, kenalkan
aku Dhani.” Sambil mengulurkan tangannya.
“Owh...
aku Ifha Nurisya, panggil aja Icha” sambil menjabat tangannya.
“Ahhh
udah gak usah lama-lama peganggan tangannya, Mochammad Ridwan” Sambil
melepaskan tangan Icha dari murid baru itu dan menjabat tangan dengannya.
“Owh...
salam kenal” ungkapnya.
“Jadi
kekantin gak nihc?” tanya Icha
“Jadilah...
aku laper banget....” jawab Ridwan sambil memeganggi perutnya.
“Mau
ikut?” ajak Icha
“Boleh”
Jawab Dhani.
“Ehhh
ehhh ehhh apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba ngajakin dia? Aku gak mau!” kata
Ridwan kesal.
“Kamu
ini lagi PMS ya wan? Kenapa sihc sensi amat ama murid baru?” celetuk Lyly.
“Biarin!!”
jawab Ridwan kesal.
“Udah
biarin aja, orang gila gak usah kamu
dengerin” kata Icha sambil menarik tangan Dhani dan mengajaknya makan bersama.
“Ya!
Icha... wahhh jahat amat lu ngatain aku gila... Cha... tungguin napa...” teriak
Ridwan yang sudah ditinggal Icha.
Entah apa yang ada dipikiran Dhani
saat ini saat memandangi Icha diddepannya yang sedang makan itu. Wajah
cantiknya yang alami tanpa sentuhan make up apapun, membawa sebuah novel romantis,
seragamnya yang masih rapi meski sudah jam segini. Biasanya anak-anak yang lain
seragamnya sudah acak-acakan kesana kemari. Namun Icha berbeda, sikapnya yang
ramah dan welcome terhadap murid baru, rasanya menambah ketertarikan Dhani
terhadap Icha. Apa lagi saat Icha tersenyum manis, lesung pipinya membuat dada
Dhani berdesir aneh.
Ridwan makan makanannya sambil
memandangi Dhani dengan sedikit sinis, karena dari tadi dia memandangi Icha dan
sambil tersenyum. Icha yang merasa aneh dengan kedua orang itupun hanya diam saja sambil geleng-geleng kepala.
Dia tidak ingin acara makannya diganggu dulu, jadi lebih baik dia diam saja.
Suara getar handphone seseorang
terdengar diantara gumbulan itu. Handphone siapa itu? Wajah penasaran anak-anak
pun saling menatap satu sama lain seolah bertanya meski tanpa ada kata yang
terucap. Tiba-tiba Ridwan mengeluarkan handphone nya.
“Yaelah
itu anak... bandel amat yag... kalo ketahuan Bu Eny mati dehc dia...” kata Iis
dengan wajah sedikit cemas.
Disekolah
ini ada larangan menggunakan handphone, jadi saat masuk kelas, bagi yang
membawa handphone, harus dikumpulkan di tas khusus yang disediakan sekolah
disetiap kelas masing-masing dan saat pulang boleh diambil lagi.
“Cha, tuh dicariin Dimas tuh” kata
Putri sambil menunjuk kearah pintu masuk kantin.
Icha
menoleh dan melihat seseorang yang disebut Putri itu yang bernama Dimas sedang
berada disana sambil celingak-celinguk lagi nyariin seseorang. Namun Icha
membiarkannya saja dan melanjutkan acara makannya.
“Ah
mungkin nyariin yang lain kalee, masa’ iya tiap kali kemana harus nyariin aku”
jawabnya.
“Eh
Cha, kayaknya Putri bener dehc, tuh orangnya kesini tuh” bisik Lyly.
“Ehhh???”
Icha pun menoleh dan benar disampingnya sudah ada Dimas.
“Bisa
ngomong sebentar gak?” Tanya Dimas.
“Ehhh
apa-apaan ini? Gak! Gak bisa, kalo mau ngomong sama Icha disini aja kenapa
sihc, gak usah sok romantis lagi ama Icha!” Celetuk Ridwan yang baru aja balik
habis terima telpon tadi.
“Ini
bukan urusanmu Ridwan! Aku pengen ngomong penting sama Icha” jawab Dimas.
“Udah
dong, kenapa sihc kalian ini? Aku tinggal dulu sebentar ya” pamit Icha sama
temen-temennya.
Dimas memandang Ridwan sinis saat akan
pergi dengan Icha, begitu pula dengan Ridwan. Dimas pun menarik tangan Icha
untuk keluar dan bicara. Sementara disisi lain Dhani yang melihat hal itu jujur
saja tak mengerti namun sepertinya dia sudah mulai memahami Ridwan, Icha dan
Dimas dari cara mereka bersikap masing-masing. Dhani pun hanya diam saja dan
melanjutkan makannya.
Ridwan
gak nerusin makannya dia malah rasanya udah pengen meledak, kelihatan banget
ada asep keluar dari kuping sama hidungnya udah kayak banteng yang gregetan mau
nyruduk orang.
***
Disisi lain Icha dibawa ketaman
belakang sekolah oleh Dimas. Mereka hanya saling tatap beberapa saat hingga
pada akhirnya Icha melempar pandangannya kearah lain. Dimas pun menghela
napasnya panjang, serasa berat sekali untuk bicara dengan orang yang berada
didepannya. Terlihat jelas dimata Dimas, wajah Icha yang sepertinya sangat
murung. Dimas tahu betul sifat dan watak perempuan yang berada didepannya itu.
“Mau manggil namamu aja susahnya minta
ampun... Cha...”
“Kamu
pengen ngomongin apa sich? Nanti Rima kalau tau pasti dia akan salah paham
lagi”
“Owh
iya..., gak koq Cha... aku udah nasehatin dia, aku gak tau sebenarnya apa yang
dibicarain Rima kekamu waktu itu, kita ini partner di panitia MOS sekolah
Cha... tapi dari tadi pagi kamu gak pernah ngomong ke aku, dan gak ada senyum
sama sekali” ungkap Dimas.
“...”
Icha diam saja mendengar ucapan Dimas.
Harus
diakui memang setiap ada Dimas, Icha tak pernah tersenyum. Bukannya tak ingin,
tapi tak bisa. Setiap kali dia terseyum pada Dimas, akan ada masalah baru yang
datang, sehingga Icha memilih menyembunyikan senyuman manisnya itu.
“Cha....
maafin aku yang gak bisa nahan Rima waktu itu, tapi kamu jangan dendam gitu
sama aku... ataupun sama Rima” lanjut Dimas.
“Aku
gak dendam sama siapapun Dim... aku Cuma gak mau ada masalah” jawab Icha.
“Saat
kamu tersenyum itu akan lebih baik Cha..., senyumanmu adalah lengkungan kecil
yang membahagiakanku” ungkapnya.
Mata
Icha terbelalak mendengar perkataan Dimas padanya itu. Dia mencari kesalahan
ataupun kebohongan yang mungkin dilakukan oleh anak laki-laki yang berdiri
tepat didepannya itu. Mata yang sayu itu kembali mengingatkan ingatan lama yang
sudah sangat ingin Icha hilangkan. Icha tahu betul Dimas tidak mungkin
berbohong. Icha membuang pandangannya lagi.
“Kamu
gak boleh ngomong kayak gitu Dim. Jagalah perasaan Rima” ungkap Icha lalu pergi
meninggalkan Dimas.
Dimas ingin sekali menahan Icha agar
tak pergi, namun niatnya itu dia urungkan dan diapun mengacak-acak rambutnya
sendiri karena sangat kesal. Icha berlari meninggalkan Dimas yang masih
ditempatnya tanpa menoleh kebelakang dia hanya berlari menuju kekelasnya.
Dikelas rupanya teman-temannya sudah kembali dari kantin. Mereka melihat raut
wajah Icha yang sangat aneh setelah bertemu dan bicara dengan Dimas. Ridwan
segera menarik Icha untuk duduk dibangkunya. Wajah Ridwan dan teman-temannya
sudah mulai khawatir melihat Icha seperti ini. Berbeda dengan Dhani, dia malah
penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Icha, Dimas dan Ridwan.
“Dia
gak ngapa-ngapain kamu kan? Si nenek lampir gak dateng gangguin kamu kan? Apa
sihc yang kalian omongin?” tanya Lesty sama Icha.
“...”
Icha masih saja diam sementara Ridwan udah gak tahan lagi.
“Cha,
udah dehc gak usah nemuin tuh bajingan dehc. Tuh orang kagak ada rasa
syukur-syukurnya ya dari dulu? Heran dehc, udah punya kamu yang sempurna kayak
gini, tapi matanya masih aja jelalatan ngelirik tuh nenek lampir Rima,
ninggalin kamu gitu aja, sekarang udah sama si nenek lampir habis nyampakin
kamu gitu aja, sekarang? Mau balik ama kamu lagi? Kalo aku jadi kamu, ogah dehc
ngeliat wajahnya” kata Ridwan panjang x lebar= LUAS.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30
dijam yang berada ditangan Icha. Sekolahpun juga sudah usai. Padahal ini hari pertama
masuk, dia sudah disibukkan dengan acara MOS dan lain sebagainya. Saat dia
sedang menunggu Kak Rezza menjemputnya, tiba-tiba sebuah motor berwarna biru
itu berhenti tepat disamping Icha. Seorang anak laki-laki yang mengendarai
motor itu membuka kaca helm nya dan tersenyum pada Icha.
“Mau
ku antar?” tanyanya.
“Ahhh
apa tidak merepotkan?” tanya Icha.
“Gak
koq..., kayaknya bentar lagi ujan dehc, mending aku anter aja, dari pada
nungguin jemputan, nanti kamu kehujanan gimana?” ucapnya.
“Ehm...
oke dehc... makasih ya...” balasnya.
Lalu Icha pun naik kemotor anak
laki-laki itu. Dan segera melajukan motornya untuk mengantar Icha pulang.
Disisi lain terlihat Ridwan yang masih
diparkiran motor, terlihat sangat kesal setelah melihat pemandangan yang sama
sekali tidak ingin dia lihat tadi. Seharusnya
aku yang mengantar Icha pulang. Ungkapnya dalam hati karena kesal.
Disisi lainnya lagi, seorang laki-laki
dan perempuan juga baru saja melihat Icha yang diantar pulang oleh orang lain.
Si anak perempuan itu kesal dengan melihat wajah laki-laki yang sedang
bersamanya setelah melihat hal itu tadi. Si anak perempuan itupun akhirnya
mencubit lengan anak laki-laki itu supaya segera sadar.
“Kamu
itu udah sama aku, biarin aja Icha sama orang lain. Biar dia gak godain kamu
lagi” ungkap anak perempuan itu.
“RIMA!”
bentak Dimas.
“Apa?
Mau belain Icha lagi?”
“Astaqfirulah...
gak sayang... aku gak belain Icha... tapi aku mau jelasin, Icha itu gak godain
aku... dia malah ngindarin aku...” jawab Dimas
“Ya
baguslah kalau dia sadar diri”
“Udah!
Berhenti ngejelek-jelekin Icha” bentak Dimas lagi.
***
Sampailah dirumah Icha. Icha pun turun dari motor
itu, tak lama kemudian kakak Icha, kak Rezza datang dan terkejut adiknya sudah
pulang, padahal baru saja dia mau menjemputnya. Icha berterima kasih kepada
anak laki-laki itu yang sudah bersedia mengantarkannya pulang. Dia meminta
Dhani untuk mampir sebentar.
“Sudah... kapan-kapan saja, lagi pula rumah kita
deket koq... aku pulang dulu ya?” pamitnya.
“Sekali lagi makasih ya Dhan...” ucap Icha.
“Ehm... Bye...”
“Bye...”
Dhani
menutup kaca helm nya dan segera melajukan motornya untuk pulang. Sementara
Icha masuk kedalam rumah menyusul kakaknya yang sudah terlebih dahulu masuk.
Dia segera menuju kamarnya, wajah tak mengenakkan tersirat diwajahnya
menandakan perasaannya yang sedang kacau saat ini. Kamar dengan nuansa biru
laut itu menjadi tempat Icha beristirahat setelah melakukan aktivitas seharian,
tempatnya belajar dan tempatnya untuk bersembunyi dari dunia luar. Aneh
rasanya, tapi hal itu benar. Kamar itu memang sengaja Icha atur agar dirinya
betah berada didalamnya sehingga mengurangi intensitas bermainnya diluar rumah.
Kamar Icha dilengkapi home teather,
kulkas, AC, dengan karpet berwarna senada dengan warna cat temboknya, springbed
dengan bed cover juga berwarna biru berukuran king size, rak buku yang rapi,
meja belajar disudut ruangan yang langsung menghadap jendela kamarnya, wifi
pribadi dikamarnya rasanya kamar Icha ini sudah seperti istana baginya.
Icha melempar tasnya kelantai, lalu dia merebahkan
tubuhnya keatas tempat tidurnya. Rasanya dia kelelahan bukan karena seluruh
kegiatan sekolahnya hari ini. Namun lebih kepada lelah perasaannya. Icha tak
ingin mengingat-ingat pembicaraannya dengan Dimas tadi, namun hal itu terus
membayangi pikirannya, apalagi kata-kata Dimas yang mengatakan bahwa
senyumannya merupakan kebahagiaan bagi Dimas. Icha benar-benar tidak habis
pikir dengan perkataan yang diucapkan oleh Dimas kepadanya tadi.
***
Malam ini Icha sedang belajar, tiba-tiba handphonenya
bergetar, hingga getarannya itu membuatnya menghentikan gerakan bulpoinnya. Dia
meraih handphone itu dan rupanya sms dari Ridwan. Icha membalasnya sebentar
lalu dia meletakkan lagi handphonenya. Laporan terkirimpun kembali membunyikan
handphonenya itu, namun tak dihiraukannya.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar
Icha, Icha pun hanya berkata masuk kepada orang yang berada diluar pintu
kamarnya dan seseorang pun masuk. Rupanya Ibunya, Icha diminta untuk turun ke
ruang tamu karena ada tamu keluarga yang datang. Icha pun meletakkan bulpoinnya
dan segera turun bersama ibunya. Setelah sampai diruang tamu, mata Icha
terbelalak melihat orang yang datang kerumahnya.
Sebuah keluarga dengan 4 anggota, Ayah, Ibu, Anak
perempuan dan anak laki-laki itu duduk diruang tamu rumah Icha. Icha pun
diminta ayahnya untuk memberikan salam pada para tamu itu. Namun Icha masih
tidak percaya dengan orang yang datang kerumahnya itu. Rasanya ada yang salah. Ungkapnya dalam hati.
“Cha... ini Om Afri dan Tante Fitri, mereka adalah
teman ayah sama bunda sewaktu SMA. Dan mereka berdua ini adalah anaknya om Afri
dan tante Fitri namanya mbk Zulfa dan adeknya Adhani”
“Owh... “ jawab Icha singkat sambil cengar cengir.
“Rupanya kamu itu anak dari temennya ayah sama
ibuku ya Cha...” celetuk Dhani.
“Lho kalian udah saling kenal?” tanya Ayah Icha.
“Mereka kan satu SMA mas, wajarlah kalau kenal”
jawab Tante Fitri.
“Sekelas malahan” jawab Icha.
“Owalah... syukurlah...” jawab Om Afri.
Icha
dan Dhani pun hanya cengar-cengir gak jelas melihat betapa anehnya pertemuan
mereka malam ini.
Icha diminta ayahnya untuk mengajak
Dhani untuk kebalkon belakang dan bicara berdua, sementara mas Rezza nemenin
mbk Zulfa, karena orang tua mereka ingin membicarakan hal yang serius. Icha pun
kini hanya berdua dengan Dhani. Tak ada sepatah katapun yang terucap sejak
mereka berada dibalkon itu selama 15 menit.
Diam diantara mereka bukannya tak beralasan. Dhani
tahu bahwa Icha saat ini sedang tidak baik perasaannya. Namun dalam hati Dhani
dia ingin sekali menghibur Icha. Wajah manis Icha yang tadi siang dia lihat tak
nampak lagi setelah dia bicara dengan anak laki-laki yang bernama Dimas itu.
“Cha, sebenarnya ada apa sihc kamu sama tuh anak?”
tanya Dhani membuyarkan keheningan malam.
“Siapa? Dimas?” tanya Icha balik.
“Iya itulah...” jawab Dhani singkat.
“Gak ada apa-apa... itu udah masa lalu” jawab Icha
sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah murungnya.
“Ehm... kamu pernah pacaran sama dia ya?” tanya
Dhani Kepo.
“Yahhh gitulah” Jawab Icha.
Jujur saja icha sangat ingin menghindari semua
pertanyaan Dhani mengenai Dimas, karena hal itu mengingatkannya lagi terhadap
apa yang diucapkan Dimas tadi kepadanya. Namun mau bangaimana lagi, Dhani
disini adalah tamu, mau tidak mau Icha pun harus menjawabnya.
“Rasa itu tak bisa beranjak ketika menepi di
romamu” ucap Dhani.
“ehh?” tanya Icha penasaran.
“Kamu gak pantes mikirin dan nangisin cowok yang
ternyata gak cinta sama kamu, justru harusnya cowok itu yang rugi, karena
nyia-nyian cewek sebaik dan secantik kamu Cha...”
“....”
Icha terdiam mendengar perkataan Dhani. Seakan
kata-kata itu menghipnotisnya. Rasanya kalau dipikir-pikir lagi, benar juga,
untuk apa dia mengingat-ingat Dimas jika selama ini Dimas hanya
mempermainkannya saja. Icha berpikir sejenak lalu memandang Dhani sesaat, Dhani
pun juga memandang Icha sambil tersenyum. Hingga tanpa disadari Icha malah
tersenyum dan tertawa sendiri. Dhani pun ikut tertawa bersama meski tak tau apa
yang sebenarnya sedang ditertawakan oleh Icha.
Icha belum berhenti tertawa. Rasanya sudah lama
dia tidak tertawa selepas ini. Dhani melihat wajah Icha yang begitu gembira itu
dengan senang. Dia merasa berhasil membuat Icha sejenak melupakan Dimas dan
memberikan senyuman serta tawa di malam ini untuk Icha. Meski harus diakui oleh
Dhani mungkin ini hanya akan berlangsung sesaat. Karena dia tahu hati Icha
sulit untuk berubah.
Akhirnya Icha pun berhenti tertawa, dia menghela
napasnya panjang, Dhani menatap keatas, melihat taburan bintang malam ini yang
sangat indah. Icha pun juga mengikuti Dhani dengan melihat bintang dilangit.
Icha tak henti-hentinya tersenyum. Sesekali mereka saling tatap dan senyum
lebar pun merekah.
Akankah
ada bintang jatuh malam ini? Tanya Icha dalam hatinya. Kalau ada bintang jatuh malam ini, aku ingin
mengucap satu keinginan, berilah aku kekuatan agar selalu dapat membuatnya
tersenyum. Harap Dhani dalam hatinya.
“Bintang jatuh...” tunjuk Icha.
Sebuah meteor yang sering disebut bintang jatuh
itu melintas diatas langit mereka. Keduanya lalu memejamkan matanya. Dan
mengucapkan harapan masing-masing didalam hati mereka. Setelah itu mereka
secara bersamaan membuka mata lalu saling tatap satu sama lain.
Icha merasa seperti sudah lama mengenal Dhani.
Icha kembali tersenyum pada Dhani. Lalu Icha menghirup udara sedalam-dalamnya
memenuhi semua rongga didalam paru-parunya. Dhani hanya memandanginya.
***
Pagi ini Icha bangun mendahului alarm nya sendiri,
dia segera mematikan jam bekkernya itu sebelum berbunyi. Dia segera menuju
kamar mandi yang juga berada dikamarnya itu. Seusai mandi dia mendengar
handphonenya berbunyi, dia melihatnya, rupanya pesan dari Dhani yang mengatakan
bahwa dia akan menjemput Icha dalam waktu 20 menit. Icha pun tanpa membalasnya
langsung bergegas berganti pakaian, berdandan lalu mengambil tasnya dan segera
turun untuk sarapan.
Mas Rezza terheran-heran melihat adik perempuannya
itu sedikit terburu-buru hari ini. Mas Rezza pun melihat jam dinding yang besar
didekat ruang makan yang jadi satu dengan dapur itu. Masih jam 6.30 kurang, ada apa sama anak ini? Tanya mas Rezza dalam
hati melihat kelakuan aneh adiknya itu.
Handphone Icha kembali berbunyi, rupanya pesan
dari Dhani lagi yang mengatakan dia sudah mau berangkat menjemput Icha
kerumahnya. Senyum merekah dibibir Icha. Setelah membalas pesan dari Dhani itu,
Icha meletakkan handphoneya dan melanjutkan sarapannya. Mas Rezza semakin
curiga dengan adiknya itu.
“Bun, anaknya bunda lagi sakit ya?” Celetuk Mas
Rezza ke Bundanya yang lagi masak didapur tak jauh dari meja makan.
“Ehhh??? Sapa mas yang sakit?” tanya Icha
“Ya lu tuh...” jawab Mas Rezza
“Apa sihc kalian ini berantem mulu’” lerai bunda.
“Icha nih bun, baru jam segini udah buru-buru aja
dari tadi, makannya pakek cepet-cepetan aja kayak orang lagi diuber maling”
jawab mas Rezza.
“Mas... yang namanya maling itu dikejar, bukannya
ngejar, gimana sihc” jawab Icha.
“Lu tuh dari tadi ketawa-ketawa, sneyum-senyum
sendiri habis terima sms, apa namanya kalau gak sakit?” tanya mas Rezza.
“Ampun dahc... “ jawab Icha sambil geleng-geleng
dan meneguk susunya.
Suara klakson sepeda motor terdengar dari luar.
Mata Icha terbelalak dan segera dia menghabiskan sisa susunya.
“Siapa tuh pagi-pagi dateng?” tanya Mas Rezza.
Icha segera beranjak dan bersaliman dengan ayah
dan bundanya.
“Sapa tuh Cha?” tanya mas Rezza.
“Dhani, dia jemput aku, udah aku berangkat dulu.
Assalamualaikum” pamin Icha.
Icha keluar rumahnya dan senyumnya kembali merekah
saat dai melihat Dhani membuka kaca helmnya dan tersenyum padanya. Icha hanya
menganggukkan kepalanya lalu dia naik kemotor Dhani dan mereka pun segera
berangkat kesekolah bersama. Mas Rezza mengintip adiknya dari jendela rumah.
Dan dia hanya cengar cengir aja ngelihatin adeknya udah bisa move on rupanya.
Mas Rezza hapal betul seperti apa Icha itu. Mas
Rezza adalah orang pertama yang menjadi tempat curhat segala rahasia Icha dari
A-Z. (Allianz kalee... “Solusi asuransi dari A-Z” hehehehehe). Mungkin mas
Rezza saat ini belum tahu seperti apa hubungan Icha dengan Dhani, namun dia
yakin Icha pasti akan cerita.
***
Saat sampai disekolah, banyak anak-anak yang
memandangi kedatangan Icha dengan Dhani pagi ini diparkiran. Icha hanya diam
saja, namun Dhani yang merasa sedikit tidak enak menjadi pusat perhatian. Ingin
sekali Dhani bertanya pada Icha, namun rasanya tempat dan waktunya yang tidak
tepat saat ini untuk bertanya. Tiba-tiba Ridwan merangkul Dhani dan Icha berada
diantara mereka. Menyepa mereka dengan senyuman.
Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama Icha.
Icha mencari sumber suara yang memanggil namanya. Rupanya Mas Ridho
memanggilnya, dia adalah ketua Ekskul Olimpiade Ekonomi. Icha pun pamit pada
Ridwan dan Dhani untuk menemui mas Ridho. Dhani merasa ini saat yang tepat
untuk bertanya pada Ridwan.
“Wan, pas aku dateng sama Icha tadi koq anak-anak
pada ngelihatin aku sama Icha sihc, dan Icha koq kayaknya cuek aja, menurutku
sihc itu ganggu banget diliatin kayak gitu” ucap Dhani.
“Yeelah lu belum tau apa? Icha itu banyak banget
yang naksir, udah anaknya pinter, selalu juara umum disekolah, baik, cantik, orang
tuanya juga dari keluarga terpandang, gimana lu gak jadi sorotan kalo lu
berangkat - pulang bareng ama Icha” jawab Ridwan.
“Termasuk Lu ama Dimas gitu?” celetuk Dhani.
“Aelah... itu beda urusan bro..., gue itu gak suka
aja kalo Icha digangguin ataupun dipermainin sama cowok. Bukan berarti gue
harus suka sama Icha kan?” jawabnya.
“Owhhh gue kire lu suka ama Icha, habisnya lu
protektif banget sihc ama Icha.” Jawab Dhani.
“Gue emang over protektif sama Icha apalagi kalau
urusan hatinya. Kenapa? Karena gue gak pengen cowok bajingan kayak Dimas
nyakitin hati sahabat gue. Icha itu terlalu baik untuk disakiti bro...” ungkap
Ridwan.
“Iye gue tahu..., tapi yang jadi pertanyaan gue ya
dari kemaren, koq bisa-bisanya tuh si Dimas ninggalin Icha gitu aja?” tanya
Dhani keheranan.
“Ahhh lu gak usah nyebut namanya depan gue. Kuping
gue mendadak budeg kalo denger tuh nama orang disebut-sebut.” Jawab Ridwan.
“Emang apa yang dia lakuin sihc sampek lu segitu
bencinya sama dia?” tanya Dhani lagi.
“Terlalu banyak luka yang udah dia goreskan dihati
Icha selama ini, seluruh sekolah ini aja tahu apa aja sihc yang udah dilakuin
sama dia ke Icha. Kalau dia ngelak berarti yah emang dia bener-bener bajingan
aja...”
“Gaya kata-kata lu sok puitis banget bro...
hahahaha” jawab Dhani sambil tersenyum dan menuju kelas mereka.
***
Icha, sudah kembali kekelasnya, setelah bertemu
dengan mas Ridho tadi. Dia segera menuju kebangkunya tiba-tiba ketua kelas
mereka, Irfan maju kedepan kelas dan ngumumin kalo Bu Rini guru Geografi mereka
sedang diluar kota jadi gak bisa ngajar, tapi ada tugas rumah yang harus mereka
selesaikan, dan besok harus mereka email ke alamat pribadinya bu Rini. Jadi
hari ini jam pertama dikelas Icha dan kawan-kawan kosong.
Seperti kebiasaan anak-anak sekolah kalau gurunya
gak ada pasti bawaannya pengen teriak-teriak solah seperti narapidana yang baru
bebas dari Lapas. Tak terkecuali Icha dan kawan-kawan. Icha menuju kebelakang
kelas, kearah loker siswa yang berada dibelakang. Dia membuka loker dengan
namanya didepan pintunya. Icha berniat mengambil novelnya yang belum selesai
dia baca. Saat dia menarik salah satu tumpukan novelnya diloker itu, sebuah
surat jatuh.
Icha mengambilnya dan membaca isi surat itu. Mata
Icha terbelalak saat melihat isi dari surat itu. Terlihat Dhani memandangi Icha
yang sedang mmbaca surat yang berada ditangannya itu. Dhani merasa curiga
dengan surat yang sedang dibaca Icha itu. Seperti ada firasat yang berkata pada
Dhani bahwa sebentar lagi Icha akan dalam bahaya.
Icha mengembalikan novelnya kedalam lokernya lagi.
Dan dia segera keluar kelas dengan membawa surat itu. Teman-teman Icha, Lyly,
Putri, Lesti, Iis dan Ridwan merasa heran dengan Icha yang terburu-buru keluar
kelas. Dhani yang merasakan ada yang aneh dengan Icha pun segera beranjak dari
tempat duduknya menyusul Icha. Menambak rasa penasaran teman-temannya.
***
Icha celingak-celinguk menyusuri setiap lorong
yang dia lewati, seperti mencari seseorang yang mungkin mengirimkan surat itu
padanya. Icha kembali membuka surat itu dan dia meneruskan mencari, hingga dia
tiba disebuah tempat didekat gudang lama yang tak pernah terjamah oleh siapapun
disitu. Dia masih mencari-cari seseorang disekitar tempat itu.
Namun tiba-tiba beberapa orang keluar dari balik
tembok. Icha sudah tidak asing dengan 3 orang itu. Yaitu Ida, Shasa, dan Ratih.
Mereka bertiga memandang Icha dengan tatapan sinis sambil bertolak pinggang.
Icha pun merasa ada yang salah disini. Tiba-tiba seseorang lagi muncul dan dia
adalah Rima.
Rima memberikan Icha senyuman seperti meremehkan.
Icha hanya bisa diam saat Rima menampakkan dirinya. (Kayak makhluk astral aja
yah hehehehe).
“Wah wah wah... Icha... Ifha Nurisya... kamu pikir
yang akan muncul disini adalah Dimas ya??? Wahhh kamu salah rupanya...” Ungkap
Rima.
“Aku lagi gak pengen berantem sama kamu Rim... aku
gak ngelakuin apa-apa sama Dimas, aku gak gangguin hubungan kalian, sms Dimas
aja sekarang gak pernah” jawab Icha.
“Owhhh baguslah... bagus kalau seperti itu...”
Balas Rima.
“Tapi... kamu... adalah... orang...
yang................. udah BIKIN DIMAS
NINGGALIN AKU!!!!!!” Teriak Rima.
“Aku gak ngerti maksud kamu apaan sihc Rim...”
tanya Icha keheranan setelah dibentak keras oleh Rima.
“Pura-pura sok gak tau lagi...” jawab Ida.
“Udah Rim hajar aja, dia itu emang cewek gak tau
diri, cewek munafik tuh harusnya kelaut aja dehc...” lanjut Shasa.
“Ehm..” Jawab Rima sambil memajukan dagu nya
menuju kearah Icha.
Dengan sigap Ida Memegangi Icha dari belakang,
untuk menahannya sementara Shasa dan Ratih mengambil 3 ember berisi air kotor,
masing-masing dari mereka memegang 1 ember tak terkecuali Rima. Mereka sudah
siap untuk menyiramkan air itu kepada Icha. Icha meronta-ronta agar bisa lepas
dari Ida namun sayang tidak bisa. Icha berusaha teriak sekeras-kerasnya.
***
Suara teriakan seorang perempuan terdengar
ditelinga Dhani yang menandakan bahwa asal suara itu tak jauh darinya. Dhani
yakin itu adalah suara teriakan Icha. Dhani pun segera berlali mencari sumber
suara Icha itu.
***
“Jadi cewek itu gak usah keganjenan dehc didepan
cowon orang lain. Rasakan ini.....”
Rima, Shasa dan Ratih bersama-sama menyiramkan air
kotor itu kearah Icha. Icha sudah sedari tadi memejamkan matanya mengantisipasi
air itu mengenai matanya. Namun Icha merasa ada yang aneh, kenapa dia tidak
merasa basah dan sepertinya genggaman Ida merenggang dari dirinya. Icha
memberanikan diri membuka matanya dan langkah terkejutnya dia saat melihat
seseorang yang berdiri didepannya menghalangi air kotor yang harusnya
mengenainya itu.
Saat Icha masih tidak percaya dengan apa yang dia
lihat, seseorang yang rela melindunginya dari air kotor yang akan disiramkan
oleh Rima CS kepadanya itu. Icha masih tidak menyangka dia akan melakukannya.
Saat Icha masing menganga, orang itu masih sempat-sempatnya bertanya pada Icha.
“Kamu gak apa-apakan???” tanyanya pelan.
Icha hanya bisa mengangguk karna masih belum bisa
percaya.