Tak Terduga
Oleh : Aisydhah Rahmah
Pagi-pagi
buta, aku sudah terbangun dari mimpi indahku. bergegas ke kamar mandi dan
langsung membasahi tubuhku dengan air yang sangat dingin. Dengan malas aku
berjalan ke kamarku dan segera bersiap untuk berangkat sekolah.
Oh iya, namaku Evi. Aku mungkin uda di
takdiri terlahir sebagai seorang jomblo abadi. Bagaimana tidak, setiap kali aku
jatuh cinta, selalu dan selalu cintaku itu bertepuk sebelah tangaan.
nasiiib…nasiib
Dengan langkah gontai aku berjalan
menyusuri koridor sekolahku. Aku berjalan menundukkan kepala dan tanpa aku
sadari aku menabrak seseorang. “maaf, aku nggak sengaja” kataku sembari
menjulurkan tangan dan menundukkan kepalaku. Dan begitu mengejutkan ternyata
aku menabrak doni. aku pun hanya terbelalak tak percaya. “maaf don, aku nggak
tau kalau ada kamu” kataku sambil menundukkan kepala. “iya, nggak papa kok,
lain kali kalau jalan hati-hati ya” kata doni sambil berlalu meninggalkanku
yang seakan tak percaya dengan kejadian yang baru saja menimpaku. Aku tetep pada posisi terpatung sambil
menganga, berharap kejadian tadi bisa terulang lagi. “aiiisshh, aku bisa megang
tangan doniiiii” teriakku dengan kencang. dan baru aku sadari, berpasang-pasang
mata tengah memperhatikanku . aku segera memasang kuda-kuda dan langsung
berlari menuju kelas.
“ngapain
lo jam segini udah lari-larian?” kata Vian mengagetkanku. “aku seneng banget
hari inii” kataku sambil cengir-cengir mengingat kejadian tadi. “gara-gara
ketemu aku ? biasa aja kalii” aku mengangkat sebelah alisku pertanda aku nggak
setuju dengan omongan vian. “talk to my
haaand” kataku seraya meninggalkan sahabat gilaku di depan pintu kelas. “udalah
ngaku aja. pake acara malu segala.” teriak vian. aku tidak menjawab perkataannya.
karena sudah pasti pembicaraanku nggak akan pernah ada habisnya kalo aku
ngomong sama dia.
jam
demi jam aku lalui dengan senang hati. berjam-jam aku gunakan untuk memikirkan
doni. cowok terkeren di sekolahku. apa mungkin ya dia bisa jadi milik aku? ah
itu Cuma mimpi yang terlalu tinggi. tanpa terasa jam sekolahku pun berbunyi.
aku segera berkemas dan langsung tancap gas. “Cebong, aku pulang dulu yaa”
kataku seraya melambaikan tangan dan memasang senyum yang sangat lebar.
cebong. itu panggilan kesayanganku buat
vian. abisnya kalau ada dia aku berharap dia segera kebawa arus yang deres dan
nggak bisa balik lagi. “eh… vi, kamu nggak mau bareng aku?” Kata vian seraya
berlari mengejarku. “waduh, gimana ya, abisnya kamu kalo nyetir tuh lemoot
banget. keburu sore baru sampek rumah.” kataku sambil memanyun-manyunkan
mulutku. “ya barangkali kamu pengen lama-lama sama aku, tapi kamu malu gitu
ngomongnya” kata vian sambil menyenggol pundakku. ketika aku ingin mengguyur
vian dengan omelanku, seketika itu juga aku melihat doni sedang tertawa sangat
bahagia dengan seseorang yang sedang asik bergelayutan di pundaknya. Tubuhku
lemas. vian yang memahami keadaanku, langsung menarikku menjauh dari lokasi
kejadian. aku pun tanpa banyak kata mengikuti tarikan tangan vian.
“aku
anter kamu pulang ya vi” kata vian sambil mengusap air mataku. “aku pun hanya
menoleh kea rah vian dan menganggukkan kepalaku. sepanjang perjalanan, aku
bersandar di bahunya sambil melingkarkan tanganku di pinggang vian. Dan aku pun
baru sadar kalau ternyata sedari tadi vian melambatkan laju sepedanya dan
mengenggam erat tanganku yang bersarang di pinggangnya. Entah mengapa, aku
sangat nyaman.
di
pundaknya, aku bisa merasakan Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang nggak pernah
ada waktu aku bersama dengan vian. Vian yang selalu cengengesan, vian yang
selalu terlihat kasar, kini seakan berubah menjadi sosok yang sangat
berkebalikan. “vii.. mau sampai kapan duduk di sepedaku terus? kamu nggak mau
istirahat?” kata-kata vian membuyarkan lamunanku. segera aku melepaskan
pelukanku dan segera berlari meninggalkan vian.
Di
dalam kamar, aku terus berpikir entah mengapa aku merasa aneh dengan vian. Vian yang sealu aku kira sahabat yang sangat
menjengkelkan, kini berubah menjadi sosok yang sangat sangat sangat nyaman.
“apa aku suka sama vian ya? tapi kan nggak mungkin aku suka sama sahabatku
sendiri. lagian vian kan nyebelin banget.” kataku dalam hati. aku pun segera
membaringkan tubuhku di kasur dan menutup mataku. Semakin erat aku menutup
mata, semakin jelas bayang-bayang vian terngiang. “yaampuuuuun. aku kan lagi
sakit hati banget sama doni. tapi kenapa sih yang di pikiranku itu Cuma ada
kecebong itu?” aku berteriak keras.
Mulai
dari itu, aku semakin yakin kalau ternyata aku menaruh hati pada sahabatku
sendiri. Sahabat yang selalu membuatku jengkel, sahabat yang selalu membuatku
nyaman. Ketika berangkat sekolah aku memutuskan untuk berangkat bareng sama
vian. selama di perjalanan menuju sekolah, aku hanya bisa diam terpaku. untuk
memanggil namanya dengan sebutan kecebong pun aku tak sanggup. “gilaaaa! nih
jantung deg-degan bangeeeet” teriakku dalam hati. “vii…” panggil vian. “ iya?”
sahutku. “aku mau ngomong jujur ke kamu, tapi kamu jangan marah ya vi, janji
dulu ke aku” kata vian sambil memperlambat laju sepeda motornya. “iya.. aku
nggak bakal marah kok. aku janji.” seketika itu juga vian menghentikan sepeda
motornya di pinggir jalan. “aku sayang banget sama kamu vi. aku sayang kamu
lebih dari seorang sahabat. aku cinta sama kamu vi. aku nggak kuat kalo harus
mendem ini lama-lama vi. kamu mau kan vi jadi pacar aku?” aku pun tak percaya
dengan semua ynag di omongkan vian. jantungku seakan berhenti berdetak. aku
bingung, aku malu. “iya. aku mau kok jadi pacar kamu” sahutku sambil menahan
air mataku. air mata kebahagiaan.
“serius
viii??” kata vian sambil mendongakkan daguku. dan aku hanya menganggukkan
kepalaku. seketika itu juga, vian memelukku dengan erat. aku pun langsung
membalas pelukannya. Ternyata, orang yang aku cari selama ini berada dekat
denganku. “mbolos yuk vii..” ajak vian sambil cengengesan. “gila kamu. ada
ulangan bu juli nih” kataku sambil memukul bahu vian. “aku Cuma pengen njadiin
hari ini sebagai hari yang paling bahagia buat aku vii. kamu mau ya?” kata vian
sambil memegang erat tanganku. “tapi ntar kalau ulangan, kamu harus contekin
aku! nggak boleh pelit!!” sahutku sambil mengangkat sebelah alisku. ‘iya
pacarku sayangg” kata vian tersenyum penuh kebahagiaan. setelah itu, kami
berdua langsung tancap gas. Ini adalah hari paling special untukku. hari
special dengan seseorang yang sangat special.
TAMAT