Senin, 29 September 2014

Kiriman KAWAN

diujung sudut itu
kutatap ia dengan detail kusut wajah yang tak seperti biasanya...
tak konsen dengan sapaan juga pertanyaaan kami..
sepertinya ia tengah berperang dengan emosi yang berkecamuk dalam hati..
sorot matanya yang tajam namun kosong membuatku bertanya-tanya tak menentu menafsirkan arti...
“gerangan apa yang terjadi pada dirinya??” Tanyaku dalam diam
se-jam berlalu, ia semakin tak biasa..
gelisah itu pekat dengan bahasa tubuhnya..
langkah layuh hampir membuatnya tersungkur..
seusai urusan itu, dengan segera ia beranjak pergi dan menyepi..
hingga datang seorang sahabat* yang menjadi tempat berbagi hati atas perasaan yang telah bercampur aduk sejak pagi...
ketika ia sudah mampu berkata...... :
ruang itu seketika hening,
menyaksikan bulir-bulir mutiara jatuh membasahi wajah beningnya..
hadir sebagai saksi atas penginjak-injakan harga diri.. (pernyataan yang diucapkannya)
kebijakan yang dikeluarkan tanpa kesepakatan..
sepihak yang merugikan khalayak..
nasib pendidikan yang semakin mengalami pemerosotan nilai..
secara terstruktur, kami jugalah nanti korbannya! Bisikku
oOOh, malang nian kenyataan ini!
wahai jiwa yang sedang menyepi..
aku tahu, inginmu memperjuangkan hak itu..
nasib orang banyak yang dipikulkan di pundakmu..
namun, perang dingin ini menjadi-jadi..!
{ "ini bukan masalah '_' yang tak seberapa, namun harga diri yang sudah tak dihargai... bukan perkara muda atau tua, yang terpenting faham akan ilmiahnya ilmi!
Belajar itu tak sekedar menyampaikan.. tapi dimana belajar itu mampu memanusiakan yang sedang belajar, bukan menginjak-injak harkat dan martabatnya! Ilmunya sampai dan bisa ditularkan kepada yang lainnya di lain hari..
kebijakan, kebijakan !!
tapi bukan terus menendangi para ahli untuk menguasai kursi,,
ini rumah kita, tapi kenapa kita yang seperti sampah.
Sementara orang tak mengerti peruang kita membangun ini yang berkuasa disini..
sudah saya ibaratkan kita seperti palestina yang tak memiliki harga lalu diinjak-injak oleh israel (secara perilaku).. " }
begitulah ucapmu yang membuatku tertegun bengong beberapa waktu..
Hingga tangsipun pecah seketika..
Saat ini, manusia di Tuhankan nafsunya sendiri..
Moral yang ditanamkan tak jadi andalan..
Agama sudah tak lagi menjadi rujukan..
Kerusakan yang terjadi, hanya saling menyalahkan..
Lalu, kalau sudah merugi, kelak siapa yang akan menanggung??
apa anda yang sudah megeluarkan kebijakan ‘gila’ itu??
Atau harus ia yang sudah kau injak-injak, dan kau usir begitu saja??
yaa begitulah kurang lebihnya ia melukiskan hatinya hari ini.. (Prof.R & Mamah S)
tetap semangat wahai pahlawan kami!!!
Ketika para penguasa kursi panas itu merajai dan menginjak-injak sampai mengusirmu, semoga di sana allah mengangkat derajat sabar dan keikhlasan hatimu
tolong perjuangan nasib pendidikan kami...
Kami hanya anak desa yang merantau dan singgah di tempat ini untuk mendalami ilmu baru hingga mampu menularkannya kelak pada bintang-bintang kecil yang kami ! dan penerus perjuangan Pendidikan di Negeri ini
You are the best for as!
Untukmu, We Love You
Cr: Khanif Isthiqomah

Sabtu, 27 September 2014

Blog Teman-teman Komunitas

wahhh dari teman-teman komunitas menulis jawa timur ada yang sudah memiliki blog yang keren nihc... :D
miliknya mas Irfan Mustofa dari Farmasi UNAIR
:D
http://catatansipengagumrahasia.blogspot.com/

Kamis, 25 September 2014

Rencana Jangka Menengah Kita ^_^

Kwan, melihat beberapa prestasi yang sudah kita torehkan setelah komunitas kita dibentuk ini rasanya kita perlu membaginya dengan mahasiswa yang lain, sehingga kita akan membuat program kerja yang lebih konkrit setelah ini.
rencananya kita akan membuat acara bedah buku dan lomba menulis kisah inspiratif para mahasiswa, insya Allah kita akan mengadakan rakorwil kecil dalam waktu dekat, semoga teman-teman bisa ikut bergabung :D

Rabu, 24 September 2014

Senin, 22 September 2014

Unesa | Kemdikbud Ajak Mahasiswa Bidikmisi Aktif Menggerakkan Budaya Menulis di Jatim

Unesa | Kemdikbud Ajak Mahasiswa Bidikmisi Aktif Menggerakkan Budaya Menulis di Jatim

Janji Baru


        Chapter I
“Dia....”

Oleh: Nisya S P

Sah sudah menjadi seorang senior saat ini. Rupanya sudah 1 tahun ini duduk dibangku SMA bagi Ifha Nurisya alias Icha. Siswi dengan penampilan rapi, rambut hitam yang lurus yang selalu terurai dengan bando biru khasnya, tanpa memakai bedakpun wajahnya sudah sangat cantik. Dan tak pernah lupa kemanapun dia pergi selalu ada buku ditangannya. Sudah terbayangkan seperti apa kepribadiannya.
          Pagi ini dia akan menjadi panitia pembukaan MOS bagi siswa-siswi baru disekolahnya, dia sudah bersiap dengan tasnya, dia segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya, ada kakak laki-lakinya, ibu dan ayahnya. Roti dengan selai strowbery menjadi favoritnya saat sarapan sebelum berangkat sekolah dengan segelas susu putih.
“Ciye yang udah mau jadi senior” celetuk kakaknya.
“Bukannya mau, tapi sudah jadi senior kalee kak...” jawabnya dengan memasang wajah sedikit manyun.
“Iya iya... udah cepetan makannya, ntar kita telat lagi” ajak Kak Rezza pada Icha untuk segera berangkat.
          Icha mengiyakannya dan segera berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk berangkat kesekolah dengan kak Rezza. Motor kak Rezza yang mengkilap karena baru saja selesai dicuci semalam sudah siap didepan untuk mengantar mereka berangkat sekolah. Sekolah Icha memang tidak begitu jauh, hanya sekitar 3 Km dari rumahnya.
          Tibalah Icha disekolahnya SMAN 6. Icha pun berpamitan dengan kakaknya untuk masuk sekolahnya. sementara kak Rezza berangkat menuju kampusnya. Icha menuju kelasnya. Dikelas sudah ada beberapa temannya, ada Iis, Lesty, Lyly, Putri dan Ridwan. Icha pun segera menempati tempat duduk didekat mereka.
          “Aku titip tas ya, panitia harus kumpul nih” pinta Icha pada teman-temannya yang lain untuk menjaga tasnya.
“ Lho, ini udah disuruh kumpul ya?” tanya Ridwan.
“ Kamu ini gimana sihc, ya udah ayo sekarang kumpul” ajak Icha pada Ridwan.
Dan mereka pun segera menuju ruang OSIS sekolah untuk berkumpul dengan panitia yang lain. Rupanya sudah banyak anggota lain yang sudah berkumpul. Tak lama kemudian Ketua Osis pun datang dan memberikan pengarahan mengenai kegiatan MOS yang akan diselenggarakan 3 hari kedepan. Semua panitia serius mendengarkan pengarahan dari Ketua. Setelah semua selesai mereka pun segera menuju kelapangan dimana para siswa-siswi baru berkumpul untuk acara pembukaan MOS. Tak lupa kepala sekolah, Ibu Yayuk sudah bersiap ditempatnya. Barisan upacara pun sudah dirapikan. Upacara pembukaan pun dimulai.
          Upacara berjalan lancar, setelah Upacara usai, seluruh panitia mengambil alih pimpinan para siswa-siswi baru. Dan mereka pun dibagi per kelasnya masing-masing. Icha mendapat bagian untuk membimbing kelas 1-3. Dan semua siswa-siswi kelas 1-3 pun dibawa menuju kelas mereka masing-masing bersama Icha dan temannya Dimas.
***
          “Wah capek banget dehc... baru aja dimulai... ampun capeknya” celetuk Icha saat memasuki kelasnya untuk istirahat.
“Iya ya Cha... hadehhh.. kekantin yuk” ajak Ridwan. Namun tiba-tiba saja...
“ Hallo...”
“Allah... nggagetin aja sihc...” Teriak Ridwan pada orang disamping bangkunya yang baru saja menyapanya dengan tiba-tiba.
“Siapa dia? Aku baru liat ada anak baru dikelas kita, perasaan tadi pagi gak ada dehc?” ungkap Icha penasaran.
“Aku murid pindahan, tadi pagi aku datang terlambat, wajar kalian gak tau, kenalkan aku Dhani.” Sambil mengulurkan tangannya.
“Owh... aku Ifha Nurisya, panggil aja Icha” sambil menjabat tangannya.
“Ahhh udah gak usah lama-lama peganggan tangannya, Mochammad Ridwan” Sambil melepaskan tangan Icha dari murid baru itu dan menjabat tangan dengannya.
“Owh... salam kenal” ungkapnya.
“Jadi kekantin gak nihc?” tanya Icha
“Jadilah... aku laper banget....” jawab Ridwan sambil memeganggi perutnya.
“Mau ikut?” ajak Icha
“Boleh” Jawab Dhani.
“Ehhh ehhh ehhh apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba ngajakin dia? Aku gak mau!” kata Ridwan kesal.
“Kamu ini lagi PMS ya wan? Kenapa sihc sensi amat ama murid baru?” celetuk Lyly.
“Biarin!!” jawab Ridwan kesal.
“Udah biarin  aja, orang gila gak usah kamu dengerin” kata Icha sambil menarik tangan Dhani dan mengajaknya makan bersama.
“Ya! Icha... wahhh jahat amat lu ngatain aku gila... Cha... tungguin napa...” teriak Ridwan yang sudah ditinggal Icha.
          Entah apa yang ada dipikiran Dhani saat ini saat memandangi Icha diddepannya yang sedang makan itu. Wajah cantiknya yang alami tanpa sentuhan make up apapun, membawa sebuah novel romantis, seragamnya yang masih rapi meski sudah jam segini. Biasanya anak-anak yang lain seragamnya sudah acak-acakan kesana kemari. Namun Icha berbeda, sikapnya yang ramah dan welcome terhadap murid baru, rasanya menambah ketertarikan Dhani terhadap Icha. Apa lagi saat Icha tersenyum manis, lesung pipinya membuat dada Dhani berdesir aneh.
          Ridwan makan makanannya sambil memandangi Dhani dengan sedikit sinis, karena dari tadi dia memandangi Icha dan sambil tersenyum. Icha yang merasa aneh dengan kedua orang itupun  hanya diam saja sambil geleng-geleng kepala. Dia tidak ingin acara makannya diganggu dulu, jadi lebih baik dia diam saja.
          Suara getar handphone seseorang terdengar diantara gumbulan itu. Handphone siapa itu? Wajah penasaran anak-anak pun saling menatap satu sama lain seolah bertanya meski tanpa ada kata yang terucap. Tiba-tiba Ridwan mengeluarkan handphone nya.
“Yaelah itu anak... bandel amat yag... kalo ketahuan Bu Eny mati dehc dia...” kata Iis dengan wajah sedikit cemas.
Disekolah ini ada larangan menggunakan handphone, jadi saat masuk kelas, bagi yang membawa handphone, harus dikumpulkan di tas khusus yang disediakan sekolah disetiap kelas masing-masing dan saat pulang boleh diambil lagi.
          “Cha, tuh dicariin Dimas tuh” kata Putri sambil menunjuk kearah pintu masuk kantin.
Icha menoleh dan melihat seseorang yang disebut Putri itu yang bernama Dimas sedang berada disana sambil celingak-celinguk lagi nyariin seseorang. Namun Icha membiarkannya saja dan melanjutkan acara makannya.
“Ah mungkin nyariin yang lain kalee, masa’ iya tiap kali kemana harus nyariin aku” jawabnya.
“Eh Cha, kayaknya Putri bener dehc, tuh orangnya kesini tuh” bisik Lyly.
“Ehhh???” Icha pun menoleh dan benar disampingnya sudah ada Dimas.
“Bisa ngomong sebentar gak?” Tanya Dimas.
“Ehhh apa-apaan ini? Gak! Gak bisa, kalo mau ngomong sama Icha disini aja kenapa sihc, gak usah sok romantis lagi ama Icha!” Celetuk Ridwan yang baru aja balik habis terima telpon tadi.
“Ini bukan urusanmu Ridwan! Aku pengen ngomong penting sama Icha” jawab Dimas.
“Udah dong, kenapa sihc kalian ini? Aku tinggal dulu sebentar ya” pamit Icha sama temen-temennya.
          Dimas memandang Ridwan sinis saat akan pergi dengan Icha, begitu pula dengan Ridwan. Dimas pun menarik tangan Icha untuk keluar dan bicara. Sementara disisi lain Dhani yang melihat hal itu jujur saja tak mengerti namun sepertinya dia sudah mulai memahami Ridwan, Icha dan Dimas dari cara mereka bersikap masing-masing. Dhani pun hanya diam saja dan melanjutkan makannya.
Ridwan gak nerusin makannya dia malah rasanya udah pengen meledak, kelihatan banget ada asep keluar dari kuping sama hidungnya udah kayak banteng yang gregetan mau nyruduk orang.
***
          Disisi lain Icha dibawa ketaman belakang sekolah oleh Dimas. Mereka hanya saling tatap beberapa saat hingga pada akhirnya Icha melempar pandangannya kearah lain. Dimas pun menghela napasnya panjang, serasa berat sekali untuk bicara dengan orang yang berada didepannya. Terlihat jelas dimata Dimas, wajah Icha yang sepertinya sangat murung. Dimas tahu betul sifat dan watak perempuan yang berada didepannya itu.
Mau manggil namamu aja susahnya minta ampun... Cha...
“Kamu pengen ngomongin apa sich? Nanti Rima kalau tau pasti dia akan salah paham lagi”
“Owh iya..., gak koq Cha... aku udah nasehatin dia, aku gak tau sebenarnya apa yang dibicarain Rima kekamu waktu itu, kita ini partner di panitia MOS sekolah Cha... tapi dari tadi pagi kamu gak pernah ngomong ke aku, dan gak ada senyum sama sekali” ungkap Dimas.
“...” Icha diam saja mendengar ucapan Dimas.
Harus diakui memang setiap ada Dimas, Icha tak pernah tersenyum. Bukannya tak ingin, tapi tak bisa. Setiap kali dia terseyum pada Dimas, akan ada masalah baru yang datang, sehingga Icha memilih menyembunyikan senyuman manisnya itu.
“Cha.... maafin aku yang gak bisa nahan Rima waktu itu, tapi kamu jangan dendam gitu sama aku... ataupun sama Rima” lanjut Dimas.
“Aku gak dendam sama siapapun Dim... aku Cuma gak mau ada masalah” jawab Icha.
“Saat kamu tersenyum itu akan lebih baik Cha..., senyumanmu adalah lengkungan kecil yang membahagiakanku” ungkapnya.
Mata Icha terbelalak mendengar perkataan Dimas padanya itu. Dia mencari kesalahan ataupun kebohongan yang mungkin dilakukan oleh anak laki-laki yang berdiri tepat didepannya itu. Mata yang sayu itu kembali mengingatkan ingatan lama yang sudah sangat ingin Icha hilangkan. Icha tahu betul Dimas tidak mungkin berbohong. Icha membuang pandangannya lagi.
“Kamu gak boleh ngomong kayak gitu Dim. Jagalah perasaan Rima” ungkap Icha lalu pergi meninggalkan Dimas.
          Dimas ingin sekali menahan Icha agar tak pergi, namun niatnya itu dia urungkan dan diapun mengacak-acak rambutnya sendiri karena sangat kesal. Icha berlari meninggalkan Dimas yang masih ditempatnya tanpa menoleh kebelakang dia hanya berlari menuju kekelasnya. Dikelas rupanya teman-temannya sudah kembali dari kantin. Mereka melihat raut wajah Icha yang sangat aneh setelah bertemu dan bicara dengan Dimas. Ridwan segera menarik Icha untuk duduk dibangkunya. Wajah Ridwan dan teman-temannya sudah mulai khawatir melihat Icha seperti ini. Berbeda dengan Dhani, dia malah penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Icha, Dimas dan Ridwan.
“Dia gak ngapa-ngapain kamu kan? Si nenek lampir gak dateng gangguin kamu kan? Apa sihc yang kalian omongin?” tanya Lesty sama Icha.
“...” Icha masih saja diam sementara Ridwan udah gak tahan lagi.
“Cha, udah dehc gak usah nemuin tuh bajingan dehc. Tuh orang kagak ada rasa syukur-syukurnya ya dari dulu? Heran dehc, udah punya kamu yang sempurna kayak gini, tapi matanya masih aja jelalatan ngelirik tuh nenek lampir Rima, ninggalin kamu gitu aja, sekarang udah sama si nenek lampir habis nyampakin kamu gitu aja, sekarang? Mau balik ama kamu lagi? Kalo aku jadi kamu, ogah dehc ngeliat wajahnya” kata Ridwan panjang x lebar= LUAS.
***
          Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 dijam yang berada ditangan Icha. Sekolahpun juga sudah usai. Padahal ini hari pertama masuk, dia sudah disibukkan dengan acara MOS dan lain sebagainya. Saat dia sedang menunggu Kak Rezza menjemputnya, tiba-tiba sebuah motor berwarna biru itu berhenti tepat disamping Icha. Seorang anak laki-laki yang mengendarai motor itu membuka kaca helm nya dan tersenyum pada Icha.
“Mau ku antar?” tanyanya.
“Ahhh apa tidak merepotkan?” tanya Icha.
“Gak koq..., kayaknya bentar lagi ujan dehc, mending aku anter aja, dari pada nungguin jemputan, nanti kamu kehujanan gimana?” ucapnya.
“Ehm... oke dehc... makasih ya...” balasnya.
          Lalu Icha pun naik kemotor anak laki-laki itu. Dan segera melajukan motornya untuk mengantar Icha pulang. Disisi lain terlihat Ridwan  yang masih diparkiran motor, terlihat sangat kesal setelah melihat pemandangan yang sama sekali tidak ingin dia lihat tadi. Seharusnya aku yang mengantar Icha pulang. Ungkapnya dalam hati karena kesal.
          Disisi lainnya lagi, seorang laki-laki dan perempuan juga baru saja melihat Icha yang diantar pulang oleh orang lain. Si anak perempuan itu kesal dengan melihat wajah laki-laki yang sedang bersamanya setelah melihat hal itu tadi. Si anak perempuan itupun akhirnya mencubit lengan anak laki-laki itu supaya segera sadar.
“Kamu itu udah sama aku, biarin aja Icha sama orang lain. Biar dia gak godain kamu lagi” ungkap anak perempuan itu.
“RIMA!” bentak Dimas.
“Apa? Mau belain Icha lagi?”
“Astaqfirulah... gak sayang... aku gak belain Icha... tapi aku mau jelasin, Icha itu gak godain aku... dia malah ngindarin aku...” jawab Dimas
“Ya baguslah kalau dia sadar diri”
“Udah! Berhenti ngejelek-jelekin Icha” bentak Dimas lagi.
***
Sampailah dirumah Icha. Icha pun turun dari motor itu, tak lama kemudian kakak Icha, kak Rezza datang dan terkejut adiknya sudah pulang, padahal baru saja dia mau menjemputnya. Icha berterima kasih kepada anak laki-laki itu yang sudah bersedia mengantarkannya pulang. Dia meminta Dhani untuk mampir sebentar.
“Sudah... kapan-kapan saja, lagi pula rumah kita deket koq... aku pulang dulu ya?” pamitnya.
“Sekali lagi makasih ya Dhan...” ucap Icha.
“Ehm... Bye...”
“Bye...”
Dhani menutup kaca helm nya dan segera melajukan motornya untuk pulang. Sementara Icha masuk kedalam rumah menyusul kakaknya yang sudah terlebih dahulu masuk. Dia segera menuju kamarnya, wajah tak mengenakkan tersirat diwajahnya menandakan perasaannya yang sedang kacau saat ini. Kamar dengan nuansa biru laut itu menjadi tempat Icha beristirahat setelah melakukan aktivitas seharian, tempatnya belajar dan tempatnya untuk bersembunyi dari dunia luar. Aneh rasanya, tapi hal itu benar. Kamar itu memang sengaja Icha atur agar dirinya betah berada didalamnya sehingga mengurangi intensitas bermainnya diluar rumah.
          Kamar Icha dilengkapi home teather, kulkas, AC, dengan karpet berwarna senada dengan warna cat temboknya, springbed dengan bed cover juga berwarna biru berukuran king size, rak buku yang rapi, meja belajar disudut ruangan yang langsung menghadap jendela kamarnya, wifi pribadi dikamarnya rasanya kamar Icha ini sudah seperti istana baginya.
Icha melempar tasnya kelantai, lalu dia merebahkan tubuhnya keatas tempat tidurnya. Rasanya dia kelelahan bukan karena seluruh kegiatan sekolahnya hari ini. Namun lebih kepada lelah perasaannya. Icha tak ingin mengingat-ingat pembicaraannya dengan Dimas tadi, namun hal itu terus membayangi pikirannya, apalagi kata-kata Dimas yang mengatakan bahwa senyumannya merupakan kebahagiaan bagi Dimas. Icha benar-benar tidak habis pikir dengan perkataan yang diucapkan oleh Dimas kepadanya tadi.
***
Malam ini Icha sedang belajar, tiba-tiba handphonenya bergetar, hingga getarannya itu membuatnya menghentikan gerakan bulpoinnya. Dia meraih handphone itu dan rupanya sms dari Ridwan. Icha membalasnya sebentar lalu dia meletakkan lagi handphonenya. Laporan terkirimpun kembali membunyikan handphonenya itu, namun tak dihiraukannya.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Icha, Icha pun hanya berkata masuk kepada orang yang berada diluar pintu kamarnya dan seseorang pun masuk. Rupanya Ibunya, Icha diminta untuk turun ke ruang tamu karena ada tamu keluarga yang datang. Icha pun meletakkan bulpoinnya dan segera turun bersama ibunya. Setelah sampai diruang tamu, mata Icha terbelalak melihat orang yang datang kerumahnya.
Sebuah keluarga dengan 4 anggota, Ayah, Ibu, Anak perempuan dan anak laki-laki itu duduk diruang tamu rumah Icha. Icha pun diminta ayahnya untuk memberikan salam pada para tamu itu. Namun Icha masih tidak percaya dengan orang yang datang kerumahnya itu. Rasanya ada yang salah. Ungkapnya dalam hati.
“Cha... ini Om Afri dan Tante Fitri, mereka adalah teman ayah sama bunda sewaktu SMA. Dan mereka berdua ini adalah anaknya om Afri dan tante Fitri namanya mbk Zulfa dan adeknya Adhani”
“Owh... “ jawab Icha singkat sambil cengar cengir.
“Rupanya kamu itu anak dari temennya ayah sama ibuku ya Cha...” celetuk Dhani.
“Lho kalian udah saling kenal?” tanya Ayah Icha.
“Mereka kan satu SMA mas, wajarlah kalau kenal” jawab Tante Fitri.
“Sekelas malahan” jawab Icha.
“Owalah... syukurlah...” jawab Om Afri.
Icha dan Dhani pun hanya cengar-cengir gak jelas melihat betapa anehnya pertemuan mereka malam ini.
          Icha diminta ayahnya untuk mengajak Dhani untuk kebalkon belakang dan bicara berdua, sementara mas Rezza nemenin mbk Zulfa, karena orang tua mereka ingin membicarakan hal yang serius. Icha pun kini hanya berdua dengan Dhani. Tak ada sepatah katapun yang terucap sejak mereka berada dibalkon itu selama 15 menit.
Diam diantara mereka bukannya tak beralasan. Dhani tahu bahwa Icha saat ini sedang tidak baik perasaannya. Namun dalam hati Dhani dia ingin sekali menghibur Icha. Wajah manis Icha yang tadi siang dia lihat tak nampak lagi setelah dia bicara dengan anak laki-laki yang bernama Dimas itu.
“Cha, sebenarnya ada apa sihc kamu sama tuh anak?” tanya Dhani membuyarkan keheningan malam.
“Siapa? Dimas?” tanya Icha balik.
“Iya itulah...” jawab Dhani singkat.
“Gak ada apa-apa... itu udah masa lalu” jawab Icha sambil menundukkan kepalanya menyembunyikan wajah murungnya.
“Ehm... kamu pernah pacaran sama dia ya?” tanya Dhani Kepo.
“Yahhh gitulah” Jawab Icha.
Jujur saja icha sangat ingin menghindari semua pertanyaan Dhani mengenai Dimas, karena hal itu mengingatkannya lagi terhadap apa yang diucapkan Dimas tadi kepadanya. Namun mau bangaimana lagi, Dhani disini adalah tamu, mau tidak mau Icha pun harus menjawabnya.
“Rasa itu tak bisa beranjak ketika menepi di romamu” ucap Dhani.
“ehh?” tanya Icha penasaran.
“Kamu gak pantes mikirin dan nangisin cowok yang ternyata gak cinta sama kamu, justru harusnya cowok itu yang rugi, karena nyia-nyian cewek sebaik dan secantik kamu Cha...”
“....”
Icha terdiam mendengar perkataan Dhani. Seakan kata-kata itu menghipnotisnya. Rasanya kalau dipikir-pikir lagi, benar juga, untuk apa dia mengingat-ingat Dimas jika selama ini Dimas hanya mempermainkannya saja. Icha berpikir sejenak lalu memandang Dhani sesaat, Dhani pun juga memandang Icha sambil tersenyum. Hingga tanpa disadari Icha malah tersenyum dan tertawa sendiri. Dhani pun ikut tertawa bersama meski tak tau apa yang sebenarnya sedang ditertawakan oleh Icha.
Icha belum berhenti tertawa. Rasanya sudah lama dia tidak tertawa selepas ini. Dhani melihat wajah Icha yang begitu gembira itu dengan senang. Dia merasa berhasil membuat Icha sejenak melupakan Dimas dan memberikan senyuman serta tawa di malam ini untuk Icha. Meski harus diakui oleh Dhani mungkin ini hanya akan berlangsung sesaat. Karena dia tahu hati Icha sulit untuk berubah.
Akhirnya Icha pun berhenti tertawa, dia menghela napasnya panjang, Dhani menatap keatas, melihat taburan bintang malam ini yang sangat indah. Icha pun juga mengikuti Dhani dengan melihat bintang dilangit. Icha tak henti-hentinya tersenyum. Sesekali mereka saling tatap dan senyum lebar pun merekah.
Akankah ada bintang jatuh malam ini? Tanya Icha dalam hatinya. Kalau ada bintang jatuh malam ini, aku ingin mengucap satu keinginan, berilah aku kekuatan agar selalu dapat membuatnya tersenyum. Harap Dhani dalam hatinya.
“Bintang jatuh...” tunjuk Icha.
Sebuah meteor yang sering disebut bintang jatuh itu melintas diatas langit mereka. Keduanya lalu memejamkan matanya. Dan mengucapkan harapan masing-masing didalam hati mereka. Setelah itu mereka secara bersamaan membuka mata lalu saling tatap satu sama lain.
Icha merasa seperti sudah lama mengenal Dhani. Icha kembali tersenyum pada Dhani. Lalu Icha menghirup udara sedalam-dalamnya memenuhi semua rongga didalam paru-parunya. Dhani hanya memandanginya.
***
Pagi ini Icha bangun mendahului alarm nya sendiri, dia segera mematikan jam bekkernya itu sebelum berbunyi. Dia segera menuju kamar mandi yang juga berada dikamarnya itu. Seusai mandi dia mendengar handphonenya berbunyi, dia melihatnya, rupanya pesan dari Dhani yang mengatakan bahwa dia akan menjemput Icha dalam waktu 20 menit. Icha pun tanpa membalasnya langsung bergegas berganti pakaian, berdandan lalu mengambil tasnya dan segera turun untuk sarapan.
Mas Rezza terheran-heran melihat adik perempuannya itu sedikit terburu-buru hari ini. Mas Rezza pun melihat jam dinding yang besar didekat ruang makan yang jadi satu dengan dapur itu. Masih jam 6.30 kurang, ada apa sama anak ini? Tanya mas Rezza dalam hati melihat kelakuan aneh adiknya itu.
Handphone Icha kembali berbunyi, rupanya pesan dari Dhani lagi yang mengatakan dia sudah mau berangkat menjemput Icha kerumahnya. Senyum merekah dibibir Icha. Setelah membalas pesan dari Dhani itu, Icha meletakkan handphoneya dan melanjutkan sarapannya. Mas Rezza semakin curiga dengan adiknya itu.
“Bun, anaknya bunda lagi sakit ya?” Celetuk Mas Rezza ke Bundanya yang lagi masak didapur tak jauh dari meja makan.
“Ehhh??? Sapa mas yang sakit?” tanya Icha
“Ya lu tuh...” jawab Mas Rezza
“Apa sihc kalian ini berantem mulu’” lerai bunda.
“Icha nih bun, baru jam segini udah buru-buru aja dari tadi, makannya pakek cepet-cepetan aja kayak orang lagi diuber maling” jawab mas Rezza.
“Mas... yang namanya maling itu dikejar, bukannya ngejar, gimana sihc” jawab Icha.
“Lu tuh dari tadi ketawa-ketawa, sneyum-senyum sendiri habis terima sms, apa namanya kalau gak sakit?” tanya mas Rezza.
“Ampun dahc... “ jawab Icha sambil geleng-geleng dan meneguk susunya.
Suara klakson sepeda motor terdengar dari luar. Mata Icha terbelalak dan segera dia menghabiskan sisa susunya.
“Siapa tuh pagi-pagi dateng?” tanya Mas Rezza.
Icha segera beranjak dan bersaliman dengan ayah dan bundanya.
“Sapa tuh Cha?” tanya mas Rezza.
“Dhani, dia jemput aku, udah aku berangkat dulu. Assalamualaikum” pamin Icha.
Icha keluar rumahnya dan senyumnya kembali merekah saat dai melihat Dhani membuka kaca helmnya dan tersenyum padanya. Icha hanya menganggukkan kepalanya lalu dia naik kemotor Dhani dan mereka pun segera berangkat kesekolah bersama. Mas Rezza mengintip adiknya dari jendela rumah. Dan dia hanya cengar cengir aja ngelihatin adeknya udah bisa move on rupanya.
Mas Rezza hapal betul seperti apa Icha itu. Mas Rezza adalah orang pertama yang menjadi tempat curhat segala rahasia Icha dari A-Z. (Allianz kalee... “Solusi asuransi dari A-Z” hehehehehe). Mungkin mas Rezza saat ini belum tahu seperti apa hubungan Icha dengan Dhani, namun dia yakin Icha pasti akan cerita.
***
Saat sampai disekolah, banyak anak-anak yang memandangi kedatangan Icha dengan Dhani pagi ini diparkiran. Icha hanya diam saja, namun Dhani yang merasa sedikit tidak enak menjadi pusat perhatian. Ingin sekali Dhani bertanya pada Icha, namun rasanya tempat dan waktunya yang tidak tepat saat ini untuk bertanya. Tiba-tiba Ridwan merangkul Dhani dan Icha berada diantara mereka. Menyepa mereka dengan senyuman.
Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama Icha. Icha mencari sumber suara yang memanggil namanya. Rupanya Mas Ridho memanggilnya, dia adalah ketua Ekskul Olimpiade Ekonomi. Icha pun pamit pada Ridwan dan Dhani untuk menemui mas Ridho. Dhani merasa ini saat yang tepat untuk bertanya pada Ridwan.
“Wan, pas aku dateng sama Icha tadi koq anak-anak pada ngelihatin aku sama Icha sihc, dan Icha koq kayaknya cuek aja, menurutku sihc itu ganggu banget diliatin kayak gitu” ucap Dhani.
“Yeelah lu belum tau apa? Icha itu banyak banget yang naksir, udah anaknya pinter, selalu juara umum disekolah, baik, cantik, orang tuanya juga dari keluarga terpandang, gimana lu gak jadi sorotan kalo lu berangkat - pulang bareng ama Icha” jawab Ridwan.
“Termasuk Lu ama Dimas gitu?” celetuk Dhani.
“Aelah... itu beda urusan bro..., gue itu gak suka aja kalo Icha digangguin ataupun dipermainin sama cowok. Bukan berarti gue harus suka sama Icha kan?” jawabnya.
“Owhhh gue kire lu suka ama Icha, habisnya lu protektif banget sihc ama Icha.” Jawab Dhani.
“Gue emang over protektif sama Icha apalagi kalau urusan hatinya. Kenapa? Karena gue gak pengen cowok bajingan kayak Dimas nyakitin hati sahabat gue. Icha itu terlalu baik untuk disakiti bro...” ungkap Ridwan.
“Iye gue tahu..., tapi yang jadi pertanyaan gue ya dari kemaren, koq bisa-bisanya tuh si Dimas ninggalin Icha gitu aja?” tanya Dhani keheranan.
“Ahhh lu gak usah nyebut namanya depan gue. Kuping gue mendadak budeg kalo denger tuh nama orang disebut-sebut.” Jawab Ridwan.
“Emang apa yang dia lakuin sihc sampek lu segitu bencinya sama dia?” tanya Dhani lagi.
“Terlalu banyak luka yang udah dia goreskan dihati Icha selama ini, seluruh sekolah ini aja tahu apa aja sihc yang udah dilakuin sama dia ke Icha. Kalau dia ngelak berarti yah emang dia bener-bener bajingan aja...”
“Gaya kata-kata lu sok puitis banget bro... hahahaha” jawab Dhani sambil tersenyum dan menuju kelas mereka.
***
Icha, sudah kembali kekelasnya, setelah bertemu dengan mas Ridho tadi. Dia segera menuju kebangkunya tiba-tiba ketua kelas mereka, Irfan maju kedepan kelas dan ngumumin kalo Bu Rini guru Geografi mereka sedang diluar kota jadi gak bisa ngajar, tapi ada tugas rumah yang harus mereka selesaikan, dan besok harus mereka email ke alamat pribadinya bu Rini. Jadi hari ini jam pertama dikelas Icha dan kawan-kawan kosong.
Seperti kebiasaan anak-anak sekolah kalau gurunya gak ada pasti bawaannya pengen teriak-teriak solah seperti narapidana yang baru bebas dari Lapas. Tak terkecuali Icha dan kawan-kawan. Icha menuju kebelakang kelas, kearah loker siswa yang berada dibelakang. Dia membuka loker dengan namanya didepan pintunya. Icha berniat mengambil novelnya yang belum selesai dia baca. Saat dia menarik salah satu tumpukan novelnya diloker itu, sebuah surat jatuh.
Icha mengambilnya dan membaca isi surat itu. Mata Icha terbelalak saat melihat isi dari surat itu. Terlihat Dhani memandangi Icha yang sedang mmbaca surat yang berada ditangannya itu. Dhani merasa curiga dengan surat yang sedang dibaca Icha itu. Seperti ada firasat yang berkata pada Dhani bahwa sebentar lagi Icha akan dalam bahaya.
Icha mengembalikan novelnya kedalam lokernya lagi. Dan dia segera keluar kelas dengan membawa surat itu. Teman-teman Icha, Lyly, Putri, Lesti, Iis dan Ridwan merasa heran dengan Icha yang terburu-buru keluar kelas. Dhani yang merasakan ada yang aneh dengan Icha pun segera beranjak dari tempat duduknya menyusul Icha. Menambak rasa penasaran teman-temannya.
***

Icha celingak-celinguk menyusuri setiap lorong yang dia lewati, seperti mencari seseorang yang mungkin mengirimkan surat itu padanya. Icha kembali membuka surat itu dan dia meneruskan mencari, hingga dia tiba disebuah tempat didekat gudang lama yang tak pernah terjamah oleh siapapun disitu. Dia masih mencari-cari seseorang disekitar tempat itu.
Namun tiba-tiba beberapa orang keluar dari balik tembok. Icha sudah tidak asing dengan 3 orang itu. Yaitu Ida, Shasa, dan Ratih. Mereka bertiga memandang Icha dengan tatapan sinis sambil bertolak pinggang. Icha pun merasa ada yang salah disini. Tiba-tiba seseorang lagi muncul dan dia adalah Rima.
Rima memberikan Icha senyuman seperti meremehkan. Icha hanya bisa diam saat Rima menampakkan dirinya. (Kayak makhluk astral aja yah hehehehe).
“Wah wah wah... Icha... Ifha Nurisya... kamu pikir yang akan muncul disini adalah Dimas ya??? Wahhh kamu salah rupanya...” Ungkap Rima.
“Aku lagi gak pengen berantem sama kamu Rim... aku gak ngelakuin apa-apa sama Dimas, aku gak gangguin hubungan kalian, sms Dimas aja sekarang gak pernah” jawab Icha.
“Owhhh baguslah... bagus kalau seperti itu...” Balas Rima.
“Tapi... kamu... adalah... orang... yang................. udah  BIKIN DIMAS NINGGALIN AKU!!!!!!” Teriak Rima.
“Aku gak ngerti maksud kamu apaan sihc Rim...” tanya Icha keheranan setelah dibentak keras oleh Rima.
“Pura-pura sok gak tau lagi...” jawab Ida.
“Udah Rim hajar aja, dia itu emang cewek gak tau diri, cewek munafik tuh harusnya kelaut aja dehc...” lanjut Shasa.
“Ehm..” Jawab Rima sambil memajukan dagu nya menuju kearah Icha.
Dengan sigap Ida Memegangi Icha dari belakang, untuk menahannya sementara Shasa dan Ratih mengambil 3 ember berisi air kotor, masing-masing dari mereka memegang 1 ember tak terkecuali Rima. Mereka sudah siap untuk menyiramkan air itu kepada Icha. Icha meronta-ronta agar bisa lepas dari Ida namun sayang tidak bisa. Icha berusaha teriak sekeras-kerasnya.
***
Suara teriakan seorang perempuan terdengar ditelinga Dhani yang menandakan bahwa asal suara itu tak jauh darinya. Dhani yakin itu adalah suara teriakan Icha. Dhani pun segera berlali mencari sumber suara Icha itu.
***
“Jadi cewek itu gak usah keganjenan dehc didepan cowon orang lain. Rasakan ini.....”
Rima, Shasa dan Ratih bersama-sama menyiramkan air kotor itu kearah Icha. Icha sudah sedari tadi memejamkan matanya mengantisipasi air itu mengenai matanya. Namun Icha merasa ada yang aneh, kenapa dia tidak merasa basah dan sepertinya genggaman Ida merenggang dari dirinya. Icha memberanikan diri membuka matanya dan langkah terkejutnya dia saat melihat seseorang yang berdiri didepannya menghalangi air kotor yang harusnya mengenainya itu.
Saat Icha masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, seseorang yang rela melindunginya dari air kotor yang akan disiramkan oleh Rima CS kepadanya itu. Icha masih tidak menyangka dia akan melakukannya. Saat Icha masing menganga, orang itu masih sempat-sempatnya bertanya pada Icha.
“Kamu gak apa-apakan???” tanyanya pelan.
Icha hanya bisa mengangguk karna masih belum bisa percaya.

Minggu, 21 September 2014

Entri Dari Kwan ^_^

http://nursyammm3.blogspot.com/2014/09/ilmu-krisis-moral-pun-miris.html#more

Silahkan dibaca dan dikoemnt ya teman-teman... ^_^

Kelahiran Budaya Sahabat Pena

Lagi, memetik manfaat dari pengalaman. Tiga hari yang lalu, saya mendapat pesan dari salah satu teman yang menawari saya untuk ikut pelatihan menulis. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya jawab “iya saya mau”. Dan berangkatlah saya bersama 4 orang yang lain dari kampus saya. Satu jam sebelum acara dimulai, tepatnya saat persiapan keberangkatan saya bahkan tidak terbayang acara apa yang akan saya ikuti, dimana tempatnya pun saya tidak tau. Dan anehnya saya merelakan untuk bolos kuliah sehari. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah jika saya ingin mendapat nilai tambah dalam minat saya di kepenulisan.
Tibalah kami di tempat tujuan, setelah mengalami insiden kebingungan beberapa kali. Kata pertama yang saya ucap dalam hati ketika memasuki bangunan yang konon akan menjadi tempat pelatihan adalah ” Saya tidak salah tempat kan?”. Gedung itu memiliki 18 lantai dengan status hotel bintang 4. Yang keluar masuk pintu lobi adalah orang-orang dengan kostum bermerk, naik mobil, dan bau parfum menguar dimana-mana. Saya jadi agak canggung, dengan sedikit menelan ludah saya beranikan untuk bertanya ke resepsionis “mbak disini benar tempat untuk pelatihan menulis dari kemendikbud ya?” Si mbak resepsionis yang cantik mengangguk dan menginstruksikan kami menuju lantai tujuh.
Oh baiklah, lagi-lagi ini membuat terperangah. Kami memasuki salah satu dari deretan pintu di lantai tujuh. Ruangannya tidak terlalu luas, disana di penuhi meja kursi yang disusun rapi membentuk pola U. Karpet nya tebal, sampai-sampai saya tak tega menginjaknya. Udara dingin dari AC langsung menyambut untuk menetralisir panasnya Surabaya. Di meja-meja sudah tersusun rapi air mineral, gelas kaca, note paper, modul, dan pensil. Saat kami datang, hanya ada beberapa orang disana. Saya jadi merasa acara ini kok eksklusif, sudah tempatnya mewah yang diundang cuma sekitar 20 orang.
Acara dimulai dengan perkenalan. Baik dari pembicara yang merangkap jadi penyelenggara dan dari peserta. Pembicara di depan adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di bidang kepenulisan. Ada yang sudah menerbitkan beberapa buku, ada yang menjadi penulis tetap di koran tempo dan jawa pos. Saya jadi semakin antusias dengan kegiatan ini, apalagi teman-teman peserta yang datang dari beberapa universitas di jawa timur adalah orang-orang yang memiliki minat tinggi di kepenulisan. Baiklah mulai ada jalan terang untuk saya mencerna nilai-nilai apa yang dihidangkan di hadapan saya.
Selama kegiatan berlangsung, saya semakin merasa seperti tamu khusus disini. Bayangkan, sudah saya kesini diundang tanpa biaya, mendapat ilmu, saya masih disuapi dengan fasilitas dan layanan mewah dari hotel. Coffee break yang tak pernah telat, menu makan prasmanan ala orang kelas atas, dan penginapan yang nyaman. Yah, meskipun saya harus sadar layanan ini saya terima dari mengeruk anggaran dana pemerintah. Dan itu artinya saya memakai uang rakyat untuk kegiatan yang terkesan berlebih-lebihan disana sini. Saya syukuri saja, wong maksudnya baik. Semoga saya tidak lalai dengan amanah ini. Seperti yang di katakan salah satu teman peserta bahwa “hari ini kami yang berstatus sebagai anak keturunan bidik misi di perlakukan bak raja di istana megah. Saya takut jika saya terlalu terlena dan lupa untuk bersyukur”. Semoga tidak!
Pak anton -penulis tetap di koran tempo- selaku pembicara menjelaskan bahwa maksud dari pelatihan ini adalah agar kami menjadi pelopor atau penggerak budaya menulis bagi mahasiswa-mahasiswa di jawa timur (sebelumnya, acara ini sudah pernah di adakan di beberapa tempat). Menulis adalah proses budaya. Semua orang bisa menulis, tapi hanya sedikit yang mau, dan dari sedikit yang mau itu hanya beberapa yang menularkan ke orang lain. Yang perlu kita pahami adalah, bahwa menulis bukan hanya sekedar penyalur hobi, tapi suatu saat akan menjadi kebutuhan.
Itulah amanah yang di embankan kepada kami, harapannya akan terbentuk komunitas-komunitas di setiap kampus yang menjadi wadah bagi orang-orang yang memiliki minat di dunia kepenulisan. Sehingga, komunitas ini bisa menjadi ladang kami dalam berbagi ilmu. Agar ilmu yang kami dapat hari ini tidak menjadi lumpur yang mengendap, tapi menjadi air yang terus mengalir.
Menulislah, karena tulisanmu akan diingat lebih lama dari pada sosokmu sendiri.
Menulislah, jangan pernah berhenti meskipun apa yang kamu tulis berulang-ulang adalah kalimat “aku tidak bisa menulis”. Nikmati proses belajar dari menulis, kita akan menemukan kejujuran dan diri kita sendiri dari sana.
Salam pena,
LAILY O ( ITS)

Sabtu, 20 September 2014

Pembukaan Komunitas Menulis Jawa Timur

hari ini merupakan peresmian dibukanya Komunitas Menulis Jawa Timur. semoga dengan diadakannya komunitas ini teman-teman mahasiswa yang lain dapat saling berbagi tulisan kita semua agar dapat dijadikan sebagai wadang penyalur minat dan bakat. menulis menulis, dan menulis itulah kata-kata yang dikatakan oleh Bpk. Qommarudin SF saat mengisi acara Pelatihan dan Pembentukan Gerakan Menulis Bidik Misi di The Alana Hotel Surabaya. begitu banyak pengetahuan baru yang kami pelajari saat mengikuti pelatihan tersebut, ilmu dapat, teman dapat, bukupun dapat. jadi bagi teman-teman yang mungkin belum beruntung untuk dapat mengikuti pelatihan ini, semoga dengan dibentuknya komunitas ini teman-teman yang sudah mengikuti pelatihan kemarin dan hari ini dapat berbagi ilmu dengan teman-teman yang lain.

selain itu bagi yang berminat untuk mengirimkan tulisannya silahkan utuk diupload ke email saya Nisaulia8@gmail.com atau email teman-teman anggota komunitas menulis yang lain (yang nanti akan disebutkan) dan nanti akan di upload kedalam blog ini agar mendapat tanggapan dari teman-teman penulis yang lain. semoga bermanfaat...

ingat bahwa menulis itu membebaskan... ^_^

Menulis, Menulis, & Menulis.