diujung sudut itu
kutatap ia dengan detail kusut wajah yang tak seperti biasanya...
tak konsen dengan sapaan juga pertanyaaan kami..
sepertinya ia tengah berperang dengan emosi yang berkecamuk dalam hati..
sorot matanya yang tajam namun kosong membuatku bertanya-tanya tak menentu menafsirkan arti...
“gerangan apa yang terjadi pada dirinya??” Tanyaku dalam diam
se-jam berlalu, ia semakin tak biasa..
gelisah itu pekat dengan bahasa tubuhnya..
langkah layuh hampir membuatnya tersungkur..
seusai urusan itu, dengan segera ia beranjak pergi dan menyepi..
hingga datang seorang sahabat* yang menjadi tempat berbagi hati atas perasaan yang telah bercampur aduk sejak pagi...
ketika ia sudah mampu berkata...... :
ruang itu seketika hening,
menyaksikan bulir-bulir mutiara jatuh membasahi wajah beningnya..
hadir sebagai saksi atas penginjak-injakan harga diri.. (pernyataan yang diucapkannya)
kebijakan yang dikeluarkan tanpa kesepakatan..
sepihak yang merugikan khalayak..
nasib pendidikan yang semakin mengalami pemerosotan nilai..
secara terstruktur, kami jugalah nanti korbannya! Bisikku
oOOh, malang nian kenyataan ini!
wahai jiwa yang sedang menyepi..
aku tahu, inginmu memperjuangkan hak itu..
nasib orang banyak yang dipikulkan di pundakmu..
namun, perang dingin ini menjadi-jadi..!
{ "ini bukan masalah '_' yang tak seberapa, namun harga diri yang sudah tak dihargai... bukan perkara muda atau tua, yang terpenting faham akan ilmiahnya ilmi!
Belajar itu tak sekedar menyampaikan.. tapi dimana belajar itu mampu memanusiakan yang sedang belajar, bukan menginjak-injak harkat dan martabatnya! Ilmunya sampai dan bisa ditularkan kepada yang lainnya di lain hari..
kebijakan, kebijakan !!
tapi bukan terus menendangi para ahli untuk menguasai kursi,,
ini rumah kita, tapi kenapa kita yang seperti sampah.
Sementara orang tak mengerti peruang kita membangun ini yang berkuasa disini..
sudah saya ibaratkan kita seperti palestina yang tak memiliki harga lalu diinjak-injak oleh israel (secara perilaku).. " }
begitulah ucapmu yang membuatku tertegun bengong beberapa waktu..
Hingga tangsipun pecah seketika..
Saat ini, manusia di Tuhankan nafsunya sendiri..
Moral yang ditanamkan tak jadi andalan..
Agama sudah tak lagi menjadi rujukan..
Kerusakan yang terjadi, hanya saling menyalahkan..
Lalu, kalau sudah merugi, kelak siapa yang akan menanggung??
apa anda yang sudah megeluarkan kebijakan ‘gila’ itu??
Atau harus ia yang sudah kau injak-injak, dan kau usir begitu saja??
yaa begitulah kurang lebihnya ia melukiskan hatinya hari ini.. (Prof.R & Mamah S)
tetap semangat wahai pahlawan kami!!!
Ketika para penguasa kursi panas itu merajai dan menginjak-injak sampai mengusirmu, semoga di sana allah mengangkat derajat sabar dan keikhlasan hatimu
tolong perjuangan nasib pendidikan kami...
Kami hanya anak desa yang merantau dan singgah di tempat ini untuk mendalami ilmu baru hingga mampu menularkannya kelak pada bintang-bintang kecil yang kami ! dan penerus perjuangan Pendidikan di Negeri ini
You are the best for as!
Untukmu, We Love You
Cr: Khanif Isthiqomah
kutatap ia dengan detail kusut wajah yang tak seperti biasanya...
tak konsen dengan sapaan juga pertanyaaan kami..
sepertinya ia tengah berperang dengan emosi yang berkecamuk dalam hati..
sorot matanya yang tajam namun kosong membuatku bertanya-tanya tak menentu menafsirkan arti...
“gerangan apa yang terjadi pada dirinya??” Tanyaku dalam diam
se-jam berlalu, ia semakin tak biasa..
gelisah itu pekat dengan bahasa tubuhnya..
langkah layuh hampir membuatnya tersungkur..
seusai urusan itu, dengan segera ia beranjak pergi dan menyepi..
hingga datang seorang sahabat* yang menjadi tempat berbagi hati atas perasaan yang telah bercampur aduk sejak pagi...
ketika ia sudah mampu berkata...... :
ruang itu seketika hening,
menyaksikan bulir-bulir mutiara jatuh membasahi wajah beningnya..
hadir sebagai saksi atas penginjak-injakan harga diri.. (pernyataan yang diucapkannya)
kebijakan yang dikeluarkan tanpa kesepakatan..
sepihak yang merugikan khalayak..
nasib pendidikan yang semakin mengalami pemerosotan nilai..
secara terstruktur, kami jugalah nanti korbannya! Bisikku
oOOh, malang nian kenyataan ini!
wahai jiwa yang sedang menyepi..
aku tahu, inginmu memperjuangkan hak itu..
nasib orang banyak yang dipikulkan di pundakmu..
namun, perang dingin ini menjadi-jadi..!
{ "ini bukan masalah '_' yang tak seberapa, namun harga diri yang sudah tak dihargai... bukan perkara muda atau tua, yang terpenting faham akan ilmiahnya ilmi!
Belajar itu tak sekedar menyampaikan.. tapi dimana belajar itu mampu memanusiakan yang sedang belajar, bukan menginjak-injak harkat dan martabatnya! Ilmunya sampai dan bisa ditularkan kepada yang lainnya di lain hari..
kebijakan, kebijakan !!
tapi bukan terus menendangi para ahli untuk menguasai kursi,,
ini rumah kita, tapi kenapa kita yang seperti sampah.
Sementara orang tak mengerti peruang kita membangun ini yang berkuasa disini..
sudah saya ibaratkan kita seperti palestina yang tak memiliki harga lalu diinjak-injak oleh israel (secara perilaku).. " }
begitulah ucapmu yang membuatku tertegun bengong beberapa waktu..
Hingga tangsipun pecah seketika..
Saat ini, manusia di Tuhankan nafsunya sendiri..
Moral yang ditanamkan tak jadi andalan..
Agama sudah tak lagi menjadi rujukan..
Kerusakan yang terjadi, hanya saling menyalahkan..
Lalu, kalau sudah merugi, kelak siapa yang akan menanggung??
apa anda yang sudah megeluarkan kebijakan ‘gila’ itu??
Atau harus ia yang sudah kau injak-injak, dan kau usir begitu saja??
yaa begitulah kurang lebihnya ia melukiskan hatinya hari ini.. (Prof.R & Mamah S)
tetap semangat wahai pahlawan kami!!!
Ketika para penguasa kursi panas itu merajai dan menginjak-injak sampai mengusirmu, semoga di sana allah mengangkat derajat sabar dan keikhlasan hatimu
tolong perjuangan nasib pendidikan kami...
Kami hanya anak desa yang merantau dan singgah di tempat ini untuk mendalami ilmu baru hingga mampu menularkannya kelak pada bintang-bintang kecil yang kami ! dan penerus perjuangan Pendidikan di Negeri ini
You are the best for as!
Untukmu, We Love You
Cr: Khanif Isthiqomah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar