Minggu, 21 September 2014

Kelahiran Budaya Sahabat Pena

Lagi, memetik manfaat dari pengalaman. Tiga hari yang lalu, saya mendapat pesan dari salah satu teman yang menawari saya untuk ikut pelatihan menulis. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya jawab “iya saya mau”. Dan berangkatlah saya bersama 4 orang yang lain dari kampus saya. Satu jam sebelum acara dimulai, tepatnya saat persiapan keberangkatan saya bahkan tidak terbayang acara apa yang akan saya ikuti, dimana tempatnya pun saya tidak tau. Dan anehnya saya merelakan untuk bolos kuliah sehari. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah jika saya ingin mendapat nilai tambah dalam minat saya di kepenulisan.
Tibalah kami di tempat tujuan, setelah mengalami insiden kebingungan beberapa kali. Kata pertama yang saya ucap dalam hati ketika memasuki bangunan yang konon akan menjadi tempat pelatihan adalah ” Saya tidak salah tempat kan?”. Gedung itu memiliki 18 lantai dengan status hotel bintang 4. Yang keluar masuk pintu lobi adalah orang-orang dengan kostum bermerk, naik mobil, dan bau parfum menguar dimana-mana. Saya jadi agak canggung, dengan sedikit menelan ludah saya beranikan untuk bertanya ke resepsionis “mbak disini benar tempat untuk pelatihan menulis dari kemendikbud ya?” Si mbak resepsionis yang cantik mengangguk dan menginstruksikan kami menuju lantai tujuh.
Oh baiklah, lagi-lagi ini membuat terperangah. Kami memasuki salah satu dari deretan pintu di lantai tujuh. Ruangannya tidak terlalu luas, disana di penuhi meja kursi yang disusun rapi membentuk pola U. Karpet nya tebal, sampai-sampai saya tak tega menginjaknya. Udara dingin dari AC langsung menyambut untuk menetralisir panasnya Surabaya. Di meja-meja sudah tersusun rapi air mineral, gelas kaca, note paper, modul, dan pensil. Saat kami datang, hanya ada beberapa orang disana. Saya jadi merasa acara ini kok eksklusif, sudah tempatnya mewah yang diundang cuma sekitar 20 orang.
Acara dimulai dengan perkenalan. Baik dari pembicara yang merangkap jadi penyelenggara dan dari peserta. Pembicara di depan adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di bidang kepenulisan. Ada yang sudah menerbitkan beberapa buku, ada yang menjadi penulis tetap di koran tempo dan jawa pos. Saya jadi semakin antusias dengan kegiatan ini, apalagi teman-teman peserta yang datang dari beberapa universitas di jawa timur adalah orang-orang yang memiliki minat tinggi di kepenulisan. Baiklah mulai ada jalan terang untuk saya mencerna nilai-nilai apa yang dihidangkan di hadapan saya.
Selama kegiatan berlangsung, saya semakin merasa seperti tamu khusus disini. Bayangkan, sudah saya kesini diundang tanpa biaya, mendapat ilmu, saya masih disuapi dengan fasilitas dan layanan mewah dari hotel. Coffee break yang tak pernah telat, menu makan prasmanan ala orang kelas atas, dan penginapan yang nyaman. Yah, meskipun saya harus sadar layanan ini saya terima dari mengeruk anggaran dana pemerintah. Dan itu artinya saya memakai uang rakyat untuk kegiatan yang terkesan berlebih-lebihan disana sini. Saya syukuri saja, wong maksudnya baik. Semoga saya tidak lalai dengan amanah ini. Seperti yang di katakan salah satu teman peserta bahwa “hari ini kami yang berstatus sebagai anak keturunan bidik misi di perlakukan bak raja di istana megah. Saya takut jika saya terlalu terlena dan lupa untuk bersyukur”. Semoga tidak!
Pak anton -penulis tetap di koran tempo- selaku pembicara menjelaskan bahwa maksud dari pelatihan ini adalah agar kami menjadi pelopor atau penggerak budaya menulis bagi mahasiswa-mahasiswa di jawa timur (sebelumnya, acara ini sudah pernah di adakan di beberapa tempat). Menulis adalah proses budaya. Semua orang bisa menulis, tapi hanya sedikit yang mau, dan dari sedikit yang mau itu hanya beberapa yang menularkan ke orang lain. Yang perlu kita pahami adalah, bahwa menulis bukan hanya sekedar penyalur hobi, tapi suatu saat akan menjadi kebutuhan.
Itulah amanah yang di embankan kepada kami, harapannya akan terbentuk komunitas-komunitas di setiap kampus yang menjadi wadah bagi orang-orang yang memiliki minat di dunia kepenulisan. Sehingga, komunitas ini bisa menjadi ladang kami dalam berbagi ilmu. Agar ilmu yang kami dapat hari ini tidak menjadi lumpur yang mengendap, tapi menjadi air yang terus mengalir.
Menulislah, karena tulisanmu akan diingat lebih lama dari pada sosokmu sendiri.
Menulislah, jangan pernah berhenti meskipun apa yang kamu tulis berulang-ulang adalah kalimat “aku tidak bisa menulis”. Nikmati proses belajar dari menulis, kita akan menemukan kejujuran dan diri kita sendiri dari sana.
Salam pena,
LAILY O ( ITS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar