Lagi, memetik manfaat
dari pengalaman. Tiga hari yang lalu, saya mendapat pesan dari salah
satu teman yang menawari saya untuk ikut pelatihan menulis. Tanpa pikir
panjang, langsung saja saya jawab “iya saya mau”. Dan berangkatlah saya
bersama 4 orang yang lain dari kampus saya. Satu jam sebelum acara
dimulai, tepatnya saat persiapan keberangkatan saya bahkan tidak
terbayang acara apa yang akan saya ikuti, dimana tempatnya pun saya
tidak tau. Dan anehnya saya merelakan untuk bolos kuliah sehari. Yang
saya pikirkan saat itu hanyalah jika saya ingin mendapat nilai tambah
dalam minat saya di kepenulisan.
Tibalah kami di tempat tujuan, setelah mengalami insiden kebingungan
beberapa kali. Kata pertama yang saya ucap dalam hati ketika memasuki
bangunan yang konon akan menjadi tempat pelatihan adalah ” Saya tidak
salah tempat kan?”. Gedung itu memiliki 18 lantai dengan status hotel
bintang 4. Yang keluar masuk pintu lobi adalah orang-orang dengan kostum
bermerk, naik mobil, dan bau parfum menguar dimana-mana. Saya jadi agak
canggung, dengan sedikit menelan ludah saya beranikan untuk bertanya ke
resepsionis “mbak disini benar tempat untuk pelatihan menulis dari
kemendikbud ya?” Si mbak resepsionis yang cantik mengangguk dan
menginstruksikan kami menuju lantai tujuh.
Oh baiklah, lagi-lagi ini membuat terperangah. Kami memasuki salah
satu dari deretan pintu di lantai tujuh. Ruangannya tidak terlalu luas,
disana di penuhi meja kursi yang disusun rapi membentuk pola U. Karpet
nya tebal, sampai-sampai saya tak tega menginjaknya. Udara dingin dari
AC langsung menyambut untuk menetralisir panasnya Surabaya. Di meja-meja
sudah tersusun rapi air mineral, gelas kaca, note paper, modul, dan
pensil. Saat kami datang, hanya ada beberapa orang disana. Saya jadi
merasa acara ini kok eksklusif, sudah tempatnya mewah yang diundang cuma
sekitar 20 orang.
Acara dimulai dengan perkenalan. Baik dari pembicara yang merangkap
jadi penyelenggara dan dari peserta. Pembicara di depan adalah
orang-orang yang sudah berpengalaman di bidang kepenulisan. Ada yang
sudah menerbitkan beberapa buku, ada yang menjadi penulis tetap di koran
tempo dan jawa pos. Saya jadi semakin antusias dengan kegiatan ini,
apalagi teman-teman peserta yang datang dari beberapa universitas di
jawa timur adalah orang-orang yang memiliki minat tinggi di kepenulisan.
Baiklah mulai ada jalan terang untuk saya mencerna nilai-nilai apa yang
dihidangkan di hadapan saya.
Selama kegiatan berlangsung, saya semakin merasa seperti tamu khusus
disini. Bayangkan, sudah saya kesini diundang tanpa biaya, mendapat
ilmu, saya masih disuapi dengan fasilitas dan layanan mewah dari hotel.
Coffee break yang tak pernah telat, menu makan prasmanan ala orang kelas
atas, dan penginapan yang nyaman. Yah, meskipun saya harus sadar
layanan ini saya terima dari mengeruk anggaran dana pemerintah. Dan itu
artinya saya memakai uang rakyat untuk kegiatan yang terkesan
berlebih-lebihan disana sini. Saya syukuri saja, wong maksudnya baik.
Semoga saya tidak lalai dengan amanah ini. Seperti yang di katakan salah
satu teman peserta bahwa “hari ini kami yang berstatus sebagai anak
keturunan bidik misi di perlakukan bak raja di istana megah. Saya takut
jika saya terlalu terlena dan lupa untuk bersyukur”. Semoga tidak!
Pak anton -penulis tetap di koran tempo- selaku pembicara menjelaskan
bahwa maksud dari pelatihan ini adalah agar kami menjadi pelopor atau
penggerak budaya menulis bagi mahasiswa-mahasiswa di jawa timur
(sebelumnya, acara ini sudah pernah di adakan di beberapa tempat).
Menulis adalah proses budaya. Semua orang bisa menulis, tapi hanya
sedikit yang mau, dan dari sedikit yang mau itu hanya beberapa yang
menularkan ke orang lain. Yang perlu kita pahami adalah, bahwa menulis
bukan hanya sekedar penyalur hobi, tapi suatu saat akan menjadi
kebutuhan.
Itulah amanah yang di embankan kepada kami, harapannya akan terbentuk
komunitas-komunitas di setiap kampus yang menjadi wadah bagi
orang-orang yang memiliki minat di dunia kepenulisan. Sehingga,
komunitas ini bisa menjadi ladang kami dalam berbagi ilmu. Agar ilmu
yang kami dapat hari ini tidak menjadi lumpur yang mengendap, tapi
menjadi air yang terus mengalir.
Menulislah, karena tulisanmu akan diingat lebih lama dari pada sosokmu sendiri.
Menulislah, jangan pernah berhenti meskipun apa yang kamu tulis
berulang-ulang adalah kalimat “aku tidak bisa menulis”. Nikmati proses
belajar dari menulis, kita akan menemukan kejujuran dan diri kita
sendiri dari sana.
Salam pena,
LAILY O ( ITS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar